Rabu, 05 Februari 2020
review buku: Lengking Burung Kasuari, sepotong kisah di timur negeri
Setiap keluarga memiliki kisahnya masing-masing. Unik, khas, dan sakral. Tiap peristiwa yang terjadi dari hari ke hari akan menjadi kenangan tersendiri dan bahkan akan disimpan secara berbeda dalam memori masing-masing anggota keluarga.
Begitu pula kisah yang diceritakan dalam buku Lengking Burung Kasuari karya Nunuk Y Kusmiana yang menjadi Pemenang Unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016. Buku ini berisi cerita sehari-hari yang nampak seperti peristiwa yang biasa terjadi di sebuah keluarga namun terasa istimewa karena dituturkan oleh Asih, bocah berumur 7 tahun. Di mata Asih yang masih sangat polos memandang dunia, masalah-masalah sederhana kadang menjadi beban yang berat, namun di sisi lain masalah-masalah yang berat bagi ayah dan ibunya, hanya angin lalu yang kemudian dilupakan keesokan harinya ketika Ia sudah sibuk bermain dengan teman-temannya.
Buku ini menceritakan kehidupan sebuah keluarga asli Jawa timur yang merantau ke Papua di tahun 1970. Bapak Asih adalah seorang tentara yang ditugaskan di pulau itu, Ia memutuskan mengajak istri dan dua anaknya menyusulnya ke sana. Tak disangka, keputusan itu membawa dampak yang luar biasa bagi hidupnya. Selain urusan pekerjaan, Ia juga harus berhadapan dengan berbagai persoalan domestik di rumah tangganya. Ibu Asih adalah seorang istri yang berasal dari keluarga kaya. Pindah ke tempat dengan berbagai keterbatasan tidak membuatnya menjadi manja. Atas segala kekurangan materi yang ia hadapi di tanah rantau, Ibu Asih memutuskan untuk berjuang mengurusi urusan dapur, merawat kedua anaknya, dan merintis bisnis di tempat yang benar-benar asing baginya. Sedangkan Asih, bocah kecil yang tidak terlalu pandai dalam urusan sekolah, mengisi hari-harinya seperti layaknya anak kecil pada umumya, bermain dengan adik dan teman-teman barunya, memanjat pohon kersen untuk menikmati buahnya, menanti Bapak dan Ibu pulang kerja, dan menunggu malam untuk mendapatkan dongeng dari Bapak sebagai pengantar tidurnya. Tak disangka, di tengah kehidupan mereka yang nampak biasa-biasa saja, mereka harus bertemu dengan orang-orang rantau dari berbagai suku yang membuat hidup mereka lebih berwarna.
Di awal kedatangannya di Jayapura, Asih ditakut-takuti tentang Tukang potong Kep oleh Sendy, temannya. Tukang potong kep digambarkan seorang berwajah seram, berjalan kemana-mana membawa parang untuk mencari kepala bocah kecil. Sebagai anak-anak, Asih percaya saja dengan cerita itu. Hingga ahirnya misteri tukang kep terjawab di ahir buku. Jawaban yang sesungguhnya bukan jawaban karena kita semua pasti sudah tahu. Kehidupan Asih menjadi sedikit lebih sulit ketika dia berhubungan dengan tante Tamb. Orang yang seringkali seenaknya saja menyuruh Asih menjaga si Butet, anaknya yang masih bayi. Asih yang masih lugu tak bisa menolak permintaan Tante Tamb yang langsung pergi entah kemana meninggalkan Asih kebingungan mengurusi anak bayi yang sangat rewel. Rupanya kepergian Tante Tamb ini juga akan menjadi peristiwa besar dalam kehidupan keluarga Asih.
Bagi saya, membaca buku ini seperti ketika menikmati sebungkus popcorn asin. Hanya sedikit rasa yang sederhana saja, namun sangat asik dinikmati sedikit demi sedikit hingga tak terasa habis juga. Buku ini sangat cocok dibaca ketika lelah menghadapi senang dan sedih yang naik dan turun secara tajam, karena ceritanya bisa membawa kita ke suasana yang santai dimana waktu terasa berputar lebih lambat. Mungkin akan sedikit bosan di beberapa bagian, terutama ketika cerita berputar-putar di area bermain Asih. Namun, penggambaran suasana tanah papua dan pantai-pantainya, burung kasuari dan pohon kersen, juga orang-orang rantau yang berjuang di sana, lengkap dengan sedikit sejarah yang menyelimutinya, akan membawa imajinasi ke tempat nun jauh di sana.
Rabu, 14 Februari 2018
Mie Mbah Tusiyem, Kebumen
Kebumen sudah menjadi rumah kedua bagi saya. Setiap bulan hampir
dua atau tiga kali saya kunjungi. Setiap mengunjungi Ibu mertua saya di kota
itu, pasti saya sempatkan untuk jalan-jalan. Saya suka mencari hal baru dari
kota ini, entah itu tempat wisata atau makanan yang saya coba satu per satu.
Salah satu tempat makan yang baru saya coba adalah Mie Mbah Tusiyem.
Tempat makan Mie Mbah Tusiyem ada di daerah Pucangan RT 01
RW 04, Kecamatan Ambal, Kebumen. Bagi yang sudah sering berjalan-jalan di
pantai-pantai di Kebumen pasti sudah akrab dengan daerah ini. Jalan utama Ambal
kebumen memang jalur menuju beberapa pantai terkenal di Kebumen, selain itu
daerah ini juga sangat terkenal atas kuliner sate ayamnya yang unik, yaitu sate
Ambal. Saya sendiri sudah sangat sering melewati jalur ini tapi baru tahu bahwa
di tempat ini ada kuliner lain selain sate.
Berbekal informasi dari tetangga dan peta dari Google, saya
mencari tempat makan Mie Mbah Tusiyem. Lokasinya sendiri agak jauh dari jalan
utama. Harus masuk ke jalan kampung, tetapi masih muat dilalui mobil. Saya
sempat kesulitan menemukannya, berkali kali saya bertanya pada orang yang saya
temui di Jalan. Tetapi mereka sudah sangat paham lokasi Mi Mbah Tusiyem jadi bisa
memberikan informasi yang sangat membantu. Saya sendiri tidak tahu pasti
lokasinya, satu yang membuat saya yakin lokasi tempat ini adalah ketika melihat
beberapa mobil terparkir di halaman sebuah rumah jawa yang cukup tua. Saya
langsung yakin pasti di situ tempatnya. Ketika saya parkir baru saya lihat ada
sebuah spanduk nama tempat ini, karna dari kejauhan spanduk ini terhalang pohon pisang.
Saya bukan
orang yang gemar makan di tempat mewah nan rapih. Tempat makan seperti rumah lah
yang selalu membuat saya betah. Mungkin ini yang membuat saya terkesan sejak pertama memasuki tempat ini. Tempat makannya benar-benar membuat saya merasa
sedang bertamu ke rumah Mbah Tusiyem. Meja kayu dan bangku bambu yang digunakan
sama seperti meja dan bangku yang biasa saya
temui di rumah mbah-mbah zaman dulu.
Saya disambut oleh mbah kakung yang mungkin usianya sudah 70an tahun. Hanya dengan
menggunakan kaus singlet mbah tersebut menanyakan pesanan saya. Saya langsung
memesan bakmi rebus dan teh manis hangat. Saya sendiri sebetulnya kurang tahu
pasti menu apa saja yang disediakan karena tidak ada daftar menu di sana, jadi
saya pesan saja menu utamanya. Sambil menunggu pesanan saya mencicipi peyek
kacang tanah yang tersedia di meja. Sesekali saya mengintip ke dapur Mbah
Tusiyem yang masih sangat tradisional bentuknya. Rupanya mbah Tusiyem sendiri
yang memasak bakmi tersebut. Meskipun sudah sangat sepuh tetapi mbah Tusiyem
masih memasak dengan sangat gesit.
Begitu dihidang di
meja, harum kaldu langsung menggugah selera. Saya yang sudah lapar di jam makan
siang tidak sabar ingin segera menyantap
mienya meskipun asap panas masih mengepul. Suiran besar ayam kampung tampak
pada bagian atas mie kuning. Seledri dan bawang goreng sebagai taburan diberikan tidak tanggung-tanggung, melimpah
bukan sekedar hiasan belaka. Benar saja, begitu diaduk dan saya cicipi kuahnya,
gurih kaldu ayam kampung menyatu dengan rasa bawang goreng dan seledri. Sedap
sekali. Rasa mie nya sendiri sama dengan mi kuning pada umumnya, kenyal dan
lembut, memang kuah dan isian ayamnya yang membuat rasanya istimewa.
Selain mie, Mbah Tusiyem juga menghidangkan sepiring ayam
goreng dan sambel korek dalam wadah gerabah meskipun saya tidak memesannya. Saya ambil
satu potong ayam goreng kampungnya, begitu saya cicipi saya langsung ingat ayam
goreng buatan Ibuk, khas sekali rasanya, ayam goreng dengan bumbu sederhana dan
tidak berlebihan sehingga rasa daging ayam kampungnya begitu terasa. Oh iya
satu lagi, teh manis yang dihidangkan pun membuat saya terkesan, sesuai dengan
prinsip teh orang jawa, panas legi kenthel. Rasa sepetnya pekat, seperti pada teh
poci, hanya saja dihidangkan dalam gelas ukuran yang lebih besar.
Sempat saya ngobrol dengan Mbah Tusiyem, saya tanya jualan
sejak kapan mbah? Beliau hanya menjawab “sejak kamu belum lahir”. Hehhhe.. saya
baru sadar ternyata di spanduk sudah tertulis sejak 1973, ya benar, memang saya
belum lahir. Mbah Tusiyem mengawali jualan mie dengan berkeliling kampung,
namun karena umur yang tidak lagi muda beliau memutuskan membuka tempat makan
sendiri di rumahnya. Tak disangka, warungnya malah terkenal dan banyak
pengunjung dari luar kota yang singgah untuk makan bakmi masakan Mbah Tusiyem. Menurut
mbah Tusiyem, Beliau menyembelih sekitar tujuh ekor ayam kampung dalam sehari
untuk menghidangkan bakmie dan ayam goreng bagi para pengunjung.
Saya sudah tidak sabar untuk berkunjung lagi ke Kebumen dan kembali
menikmati masakan Mbah Tusiyem.. Makanan sederhana dengan rasa istimewa memang
selalu bikin rindu. Mampirlah ke sana bila kamu ingin merasakan rindu yang
sama.
Minggu, 04 Februari 2018
Rajah
Kemarin ibuku bilang, ada yang aneh di toko. Hari itu hingga siang hanya ada satu orang yang beli barang. Lainnya cuma berkunjung dan tidak beli. Lalu ibuku bersih-bersih di sekitar toko. Ketika Ibu membersihkan pot bunga pucuk merah, Ibu menemukan sebuah kertas bertuliskan rajah, semacam tulisan arab, dan di sekitarnya ada sebotol kecil minyak, lalu bunga-bunga yang ditebar.
Ibu mengabari kami.
Reaksiku dan suami?
tertawa..
Lucu sekali bukan?
Ada hal seperti itu. Kami alami sendiri. Selama ini hal-hal seperti itu hanya kami dengar lewat cerita.
Apakah itu gaib atau ada yang iri atau semacam itu kami tidak khawatir.
Kami hanya merasa lucu
Coba kamu bayangkan ada orang datang ke (katakanlah) dukun. Terbayang tidak dialognya?
Apakah seperti ini?
"mbah ada orang yang saya tidak suka, gimana kalo dagangannya kita bikin tidak laris?"
atau
"mbah tolong bantu saya, saya ingin supaya toko itu tidak laris"
lalu mbah dukunnya "tenang akan kubantu, ini rajah, bunga dan minyak untukmu, taroh di tokonya nanti tokonya tidak laku"
"ok baik mbah, ini ongkosnya"
hahhaa...
Membayangkan dialognya saja sudah bikin kami ketawa
Bagaimana cara orang itu meletakkan benda-benda gaib yang dia bawa
apakah malam-malam dia datang ke toko, mengendap-endap.. merokok dulu di depan toko supaya terlihat natural seperti orang nongkrong kebanyakan, lalu dia korek-korek tanah di pot dan meletakkan benda-benda itu sambil berharap benda-benda itu bekerja sesuai rencana.
hahahha..
Longgar sekali waktu orang itu.
Trimakasih atas perhatiannya.
Trimakasih atas kelucuannya :)
Ibu mengabari kami.
Reaksiku dan suami?
tertawa..
Lucu sekali bukan?
Ada hal seperti itu. Kami alami sendiri. Selama ini hal-hal seperti itu hanya kami dengar lewat cerita.
Apakah itu gaib atau ada yang iri atau semacam itu kami tidak khawatir.
Kami hanya merasa lucu
Coba kamu bayangkan ada orang datang ke (katakanlah) dukun. Terbayang tidak dialognya?
Apakah seperti ini?
"mbah ada orang yang saya tidak suka, gimana kalo dagangannya kita bikin tidak laris?"
atau
"mbah tolong bantu saya, saya ingin supaya toko itu tidak laris"
lalu mbah dukunnya "tenang akan kubantu, ini rajah, bunga dan minyak untukmu, taroh di tokonya nanti tokonya tidak laku"
"ok baik mbah, ini ongkosnya"
hahhaa...
Membayangkan dialognya saja sudah bikin kami ketawa
Bagaimana cara orang itu meletakkan benda-benda gaib yang dia bawa
apakah malam-malam dia datang ke toko, mengendap-endap.. merokok dulu di depan toko supaya terlihat natural seperti orang nongkrong kebanyakan, lalu dia korek-korek tanah di pot dan meletakkan benda-benda itu sambil berharap benda-benda itu bekerja sesuai rencana.
hahahha..
Longgar sekali waktu orang itu.
Trimakasih atas perhatiannya.
Trimakasih atas kelucuannya :)
Sebelum lupa
Dalam perjalanan ke kantor tiba-tiba aku terpikir
Aku ingin menulis bebas. Apa saja. Tak perlu dibagus bagusin.
Aku ingin memberitahu suatu hal yang enak enak. Enak sekali hidup kalau tidak perlu memikirkan pendapat orang lain.
Enak sekali bukan, bila hidup tidak memikirkan komentar orang lain. Tidak perlu peduli orang lain suka atau tidak, tidak perlu memikirkan tanggapan orang, tak perlu khawatir reaksi orang atas apa yang kita lakukan. asal itu tidak mengganggu mereka.
begitu juga dengan menulis. Aku hanya ingin menulis sekarang sebelum lupa.
Aku ingin menulis bebas. Apa saja. Tak perlu dibagus bagusin.
Aku ingin memberitahu suatu hal yang enak enak. Enak sekali hidup kalau tidak perlu memikirkan pendapat orang lain.
Enak sekali bukan, bila hidup tidak memikirkan komentar orang lain. Tidak perlu peduli orang lain suka atau tidak, tidak perlu memikirkan tanggapan orang, tak perlu khawatir reaksi orang atas apa yang kita lakukan. asal itu tidak mengganggu mereka.
begitu juga dengan menulis. Aku hanya ingin menulis sekarang sebelum lupa.
Senin, 21 Maret 2016
SENSI
Kayaknya orang paling sensitif yg pernah Saya temui di dunia adalah.. Aksara!!
gampang banget trenyuh, sedih, dan kebawa ati..
Aksara sudah sering Saya ajak nonton di bioskop. Tentu saja Saya memilih film untuk anak-anak. Hal yang paling Saya takutkan dari membawa Aksara ke bioskop adalah, takut dia sedih dengan filmnya! ini adalah pengalaman kami berkali-kali.
Saat nonton film Doraemon, kirain dia nggak ngerti ceritanya, ternyata dia nangis tersedu-sedu hampir setengah jam, bahkan sampai filmnya habis.. Nangis bukan nangis rewel tapi nangis sedih melihat adegan di dalam film. Tangisnya tidak berhenti sampai saat itu. Besokanya kok ya papanya kebetulan mbeliin dia VCD film Doraemon, daaaan setiap ditonton selalu nangis. Tapi anaknya mau nonton lagi mau nonton lagi. Nangis lagi-nangis lagi.
Hal ini tidak terjadi hanya untuk film itu. Berbagai macam film. Inside out, Good Dinosaur, dan banyak film lainnya.
Rupanya hal ini tidak terjadi hanya karena film. Tapi juga saat dibacakan buku cerita. Saya tahu Aksara sangat suka dongeng tentang keluarga. Dongeng dengan tokoh ayah, ibu, dan anak. Tapi saya tidak mengira bahwa kesukaanya seekstrim "Semua anak-anak dalam dongeng harus punya Ibu dan Ayah!"
Kejadiannya tadi malam.
Saya menemukan buku cerita "Very hungry catterpillar"
Buku yang sangat bagus, menceritakan tentang metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu dengan sederhana.
Saya menceritakannya dengan alat bantu berupa gambar dari buku itu yang saya saya print, lalu Saya bentuk menjadi semacam wayang.
Aksara senang sekali dengan ceritanya, mulai dari telur yang menetas menjadi ulat, ulat makan banyak, jadi ulat yang gendut, lalu membuat kepompong dan jadilah kupu-kupu yang cantik. Sudah dua kali saya menceritakan cerita ini dan respon dari Aksara adalah tertawa gembira.
Tibalah di kali ke tiga saya ceritakan cerita ini menjelang tidur.
Aksara baru menyadari bahwa di cerita ini hanya ada satu tokoh ulat yang sendirian. Mulai dari menetas hingga menjadi kupu-kupu dia sendirian.
"Mamahnya ulat kecil mana?"
(saya asal saja menjawab) "kan mamahnya ulat itu kupu-kupu, jadi nanti kalo si ulat udah jadi kupu-kupu mamahnya baru njemput"
di sinilah drama terjadi.. jeng jeeeeeng.... Aksara menangis sesenggukan!!
"Ulat nggak ada mamahnya....huaaaaaaaa"
"ada dek.. tapi terbang, kan kupu-kupu"
"Ulat nggak ada mamahnya... huaaaa"
"Ada dek, besok mamah print in gambar mamahnya ulat"
"Nggak, ada.. ulatnya nggak ada mamahnya.."
nangislah dia, sedih, meringkuk di kasur, sesenggukan dari jam 10 malam sampai ketiduran sendiri jam 11 malam.
Senin, 07 Maret 2016
cita-cita
Inget nggak waktu kecil kita punya banyak banget cita-cita?
Kalau saya sih pernah punya cita-cita jadi astronaut (ini waktu SD), jadi Wartawan (dari akhir SD sampe SMA), jadi dokter (ini cita-cita nggak serius), jadi guru, jadi penulis buku anak-anak, dan satu lagi jadi psikolog. Ada yang tercapai? gada! hahaha..
Gampang banget berubah yah? dari SD aja udah galau.. cita-citanya gonta ganti.
Ternyata Aksara juga.
Padahal baru PAUD loh..
nih Emak tulisin biar kamu inget nak, kamu pengen jadi apa dulu waktu kecil.
Setelah kemarin ingin jadi burung hantu rupanya Aksara berubah pikiran.
Kejadiannya beberapa minggu yang lalu, waktu kami sekeluarga pergi ke rumah sakit. Sulluh batuk flu yang lumayan lama, sudah satu minggu lebih. Jadi kami putuskan untuk ke dokter saja. Karena usianya baru 4 bulan jadi dokter menyarankan untuk diterapi uap supaya dahak dan lendir bisa keluar dari tubuhnya dengan mudah.
Sulluh dibawa ke ruang UGD untuk diterapi uap. Beberapa perawat menyiapkan berbagai peralatan untuk terapi, memasangkan alat-alatnya, juga mengajak si bayi bercanda supaya tidak stress saat diterapi.
Rupanya Aksara memperhatikan.
"Mah, nanti kalau udah besar aku mau jadi perawat aja.. biar kalau adek sakit batuk lagi aku yang ngrawat, nanti kalau adek diuap aku yang nyiapin.."
ah.. sweet..
boleh nak boleh.. InsyaAlloh, kalau niatmu baik jadi perawat bisa membuatmu jadi manusia kesayangan Alloh..
Kalau saya sih pernah punya cita-cita jadi astronaut (ini waktu SD), jadi Wartawan (dari akhir SD sampe SMA), jadi dokter (ini cita-cita nggak serius), jadi guru, jadi penulis buku anak-anak, dan satu lagi jadi psikolog. Ada yang tercapai? gada! hahaha..
Gampang banget berubah yah? dari SD aja udah galau.. cita-citanya gonta ganti.
Ternyata Aksara juga.
Padahal baru PAUD loh..
nih Emak tulisin biar kamu inget nak, kamu pengen jadi apa dulu waktu kecil.
Setelah kemarin ingin jadi burung hantu rupanya Aksara berubah pikiran.
Kejadiannya beberapa minggu yang lalu, waktu kami sekeluarga pergi ke rumah sakit. Sulluh batuk flu yang lumayan lama, sudah satu minggu lebih. Jadi kami putuskan untuk ke dokter saja. Karena usianya baru 4 bulan jadi dokter menyarankan untuk diterapi uap supaya dahak dan lendir bisa keluar dari tubuhnya dengan mudah.
Sulluh dibawa ke ruang UGD untuk diterapi uap. Beberapa perawat menyiapkan berbagai peralatan untuk terapi, memasangkan alat-alatnya, juga mengajak si bayi bercanda supaya tidak stress saat diterapi.
Rupanya Aksara memperhatikan.
"Mah, nanti kalau udah besar aku mau jadi perawat aja.. biar kalau adek sakit batuk lagi aku yang ngrawat, nanti kalau adek diuap aku yang nyiapin.."
ah.. sweet..
boleh nak boleh.. InsyaAlloh, kalau niatmu baik jadi perawat bisa membuatmu jadi manusia kesayangan Alloh..
Senin, 22 Februari 2016
Burung Hantu
Suatu hari Ibu Guru di Sekolah Aksara membahas tentang cita-cita. Satu per satu anak maju ke depan dan menceritakan cita-citanya. Ada yang ingin jadi dokter, jadi guru, jadi polisi (waarr biasa yahh anak PAUD usia 3 tahun udah punya keinginan KERJA hehhee..).
Tibalah saat si Aksara maju dan menceritakan cita-citanya. Saat ditanya ingin jadi apa nanti? dengan lantang dijawabnya pengen jadi Burung Hantu! Si Ibu Guru buru-buru "membetulkan" cita-cita si Aksara.
"nggak gitu dek, cita-cita itu ya guru atau tentara atau dokter gitu, Aksara mau jadi apa nanti?"
Aksara langsung diem, nggak mau crita apa-apa lagi.
ah.. yang kutakutkan terjadi juga.
Awalnya aku nggak mau itu masukin anak ke sekolah, takut imajinasinya dipotong dan dikotak-kotakkan. Takut kepolosan anak-anak terenggut dan anak jadi takut berimajinasi. Takut disalahkan.
Rupanya, setelah ditanyakan ke si anak, kenapa ingin jadi burung hantu? dia jawab katanya biar bisa bobok di luar, trus biar liatin papa dari atas pohon kalau papa pergi ke mesjid solat magrib..
sesederhana itu..
Minggu, 23 Agustus 2015
Pilihan
Semakin bertambahnya umur, semakin banyak kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Bukan sekedar omongan lalu bahwa "hidup adalah pilihan", bukan, bukan seperti itu, tapi benar benar memilih diantara dua atau bahkan banyak pilihan. Mau ke sana atau ke sini. Mau ambil yang ini atau yang itu. Benar-benar harus memilih dan tidak bisa mengambil semuanya
Pada awalnya sangat sulit untuk membuat pilihan. Seringkali malah menyesal akan pilihan yang diambil. Ah coba dulu aku ke situ, mungkin tidak seperti ini jadinya.
Tapi semakin lama keahlian dalam memilih akan semakin terasah, dan bila disadari ternyata tidak ada pilihan yang salah. Toh kita tidak pernah tahu tentang masa depan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bila kita ambil pilihan yang ini atau yang itu.
Inget nggak buku Ghost Bump yang sangat ngehitz di era 90an? buku misteri yang kadang menerbitkan seri petualangan, di mana kita kan memilih petualangan kita sendiri. Kita diharuskan memutuskan tindakan yang akan diambil dan itu menentukan halaman mana yang akan kita buka selanjutnya? Nah ketika baca buku itu tentu saja kubaca semua! hehe.. pilihan a, b, c semua kucoba, ternyata sama saja.. ujung-ujungnya pembaca akan celaka dan bertemu hal-hal mengerikan. Yah, namanya juga buku horor. Menurutku hidup ya mirip-mirip seperti itu. Ujung-ujungnya akan sama (tapi bukan horornya loh yaa). Selama kita berpegang teguh dengan tujuan utama hidup kita apapun pilihan yang diambil akan sama saja.
Kita akan sama-sama belajar dengan perjalanan yang kita lewati, baik melewati jalan A atau jalan B.
Karena itulah, elastisitas hati dan pikiran sangat diperlukan. Berkeras hati terhadap kehidupan akan membuat jiwa lelah dan terus merasa sulit. Hati, jiwa, dan pikiran harus segera berubah menyesuaikan keadaan. Harus siap akan apa yang akan dihadapi baik atau buruk, InsyaAlloh segalanya akan membangun diri dan mendorong ke arah tujuan sejati dari hidup.
Pada awalnya sangat sulit untuk membuat pilihan. Seringkali malah menyesal akan pilihan yang diambil. Ah coba dulu aku ke situ, mungkin tidak seperti ini jadinya.
Tapi semakin lama keahlian dalam memilih akan semakin terasah, dan bila disadari ternyata tidak ada pilihan yang salah. Toh kita tidak pernah tahu tentang masa depan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bila kita ambil pilihan yang ini atau yang itu.
Inget nggak buku Ghost Bump yang sangat ngehitz di era 90an? buku misteri yang kadang menerbitkan seri petualangan, di mana kita kan memilih petualangan kita sendiri. Kita diharuskan memutuskan tindakan yang akan diambil dan itu menentukan halaman mana yang akan kita buka selanjutnya? Nah ketika baca buku itu tentu saja kubaca semua! hehe.. pilihan a, b, c semua kucoba, ternyata sama saja.. ujung-ujungnya pembaca akan celaka dan bertemu hal-hal mengerikan. Yah, namanya juga buku horor. Menurutku hidup ya mirip-mirip seperti itu. Ujung-ujungnya akan sama (tapi bukan horornya loh yaa). Selama kita berpegang teguh dengan tujuan utama hidup kita apapun pilihan yang diambil akan sama saja.
Kita akan sama-sama belajar dengan perjalanan yang kita lewati, baik melewati jalan A atau jalan B.
Karena itulah, elastisitas hati dan pikiran sangat diperlukan. Berkeras hati terhadap kehidupan akan membuat jiwa lelah dan terus merasa sulit. Hati, jiwa, dan pikiran harus segera berubah menyesuaikan keadaan. Harus siap akan apa yang akan dihadapi baik atau buruk, InsyaAlloh segalanya akan membangun diri dan mendorong ke arah tujuan sejati dari hidup.
Minggu, 24 Mei 2015
Wes ora gumun
Aku kan asalnya dari kampung yak, yang namanya piknik ke Jakarta itu wuiih sueneeeng banget ky plesir ke negeri antah berantah. Liat gedung-gedung besar, liat Mall, liat keramaian.
pernah ditraktir sama sodara makan pizza, ampun daaah senengnya. Keinget bertaun taun kalo aku pernah makan pizzaaaa.. yang mana itu ga ada donks di kampungku.
Sekarang malah jadi perantauan di Jakarta.
Awal-awal merantau ya masih gumunan. Segala makanan yang aneh-aneh dicobain. Makan makanan luar negeri, nonton bioskop yang paling yahud, nonton pertunjukan mahal-mahal, ke Mall mana-mana, main di taman-taman kota yang keren, sampe akhirnya kesampean kerja di gedung bertingkat. Pokoknya yang dulu takgumunke kucobain lah. Sampe pada titik, semua terasa biasa.
Lalu aku kangen being gumunan.
ko aku wes ora gumunan yak.
asik loh padahal.. hhhehehe..
liat foto temen-temen yang di daerah maen sepeda di taman kota, foto-foto di air mancur, lesehan di alun-alun, makan makanan yang kalo aku liat "ih gitu doank difoto-foto, noh foto-fotonya food blogger donk makanannya sippp"
tapi kalo dipikir-pikir kangen deh dengan yang kaya gitu
kangen dengan hal biasa yang terasa istimewa.
jadi gitu yah, kalo segala yang kita inginkan sudah tersedia ngga ada lagi yang istimewa.
eh kaya jadi terasa nggak bersyukur yah?
hehee..
tapi kembali menjadi biasa aja itu asik loh.
masak-masak di rumah, nonton di rumah (guys, kubilangin yah, beli proyektor adalah investasi paling berharga yang pernah kulakukan! hhahaha.. , gelapin kamar, tariks slimut, nonton film apapun yang kita mau bareng keluarga.. sangat istimewa!) ke pasar bareng keluarga, ngracik kopi sendiri, tutup mata dengan kehidupan para food blogger, travel blogger, dan segala blogger-blogger yang kehidupanya terasa bak mimpi, menenangkan banget ternyata.
biar muncul lagi rasa nggumun yang menyenangkan.
pernah ditraktir sama sodara makan pizza, ampun daaah senengnya. Keinget bertaun taun kalo aku pernah makan pizzaaaa.. yang mana itu ga ada donks di kampungku.
Sekarang malah jadi perantauan di Jakarta.
Awal-awal merantau ya masih gumunan. Segala makanan yang aneh-aneh dicobain. Makan makanan luar negeri, nonton bioskop yang paling yahud, nonton pertunjukan mahal-mahal, ke Mall mana-mana, main di taman-taman kota yang keren, sampe akhirnya kesampean kerja di gedung bertingkat. Pokoknya yang dulu takgumunke kucobain lah. Sampe pada titik, semua terasa biasa.
Lalu aku kangen being gumunan.
ko aku wes ora gumunan yak.
asik loh padahal.. hhhehehe..
liat foto temen-temen yang di daerah maen sepeda di taman kota, foto-foto di air mancur, lesehan di alun-alun, makan makanan yang kalo aku liat "ih gitu doank difoto-foto, noh foto-fotonya food blogger donk makanannya sippp"
tapi kalo dipikir-pikir kangen deh dengan yang kaya gitu
kangen dengan hal biasa yang terasa istimewa.
jadi gitu yah, kalo segala yang kita inginkan sudah tersedia ngga ada lagi yang istimewa.
eh kaya jadi terasa nggak bersyukur yah?
hehee..
tapi kembali menjadi biasa aja itu asik loh.
masak-masak di rumah, nonton di rumah (guys, kubilangin yah, beli proyektor adalah investasi paling berharga yang pernah kulakukan! hhahaha.. , gelapin kamar, tariks slimut, nonton film apapun yang kita mau bareng keluarga.. sangat istimewa!) ke pasar bareng keluarga, ngracik kopi sendiri, tutup mata dengan kehidupan para food blogger, travel blogger, dan segala blogger-blogger yang kehidupanya terasa bak mimpi, menenangkan banget ternyata.
biar muncul lagi rasa nggumun yang menyenangkan.
Selasa, 21 April 2015
Buku Dongeng
Suatu hari kakak ipar main ke rumah saya. Biasa, kumpul keluarga yang dibahas pasti tentang anak. Dari sekian banyak pembicaraan, entah dari mana asal mulanya kami membicarakan tentang buku anak-anak. Saya mengeluhkan hanya sedikit buku dongeng Indonesia yang bagus, sementara di luar negeri sana buku dongeng bagus-bagus banget. Road Dahl, Dr Seuss, Brothers Grimm adalah beberapa pendongeng yang paling saya idolakan. Kalau di Indonesia saya baru menemukan Clara Ng.
Kakak ipar hanya senyum dan nyletuk "Yaudah, kamua aja coba bikin buku dongeng yang bagus".. hahaha... skak mat! jawaban saya pun nggak kalah songonya "Iyaa ini sedang bikin" padahal sama sekali belom laaah.. hahaha
Tawaran menarik datang dari Meina, dia mengajak saya ikut serta mbantuin bikin dongeng untuk tesisnya sebagai syarat kelulusan S2 nya di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. wow! pas bener. Langsung saja saya iyakan. Padahal ga pernah saya bikin cerita dongeng. Kalau ndongeng nya doank mah sering, tapi kan ngarang cerita beda sama menceritakannya. Gapapa deh, mari kita coba. Dalam tesisnya, Simbak Meina membuat semacam buku pelajaran untuk anak kelas 3 SD. Dalam buku itu akan ada berbagai dongeng dan anak akan mengambil pelajaran dengan dasar dongeng-dongeng tersebut.
Saya pun mulai membuat dan menyetor dongeng apa adanya. Tanpa memperdulikan bahwa dongeng harus ada hikmahnya. Dongeng anak-anak bagi saya yang penting tulus, apapun ceritanya pasti ada hikmahnya, mungkin kita orang dewasa tidak bisa menemukanya tapi kita akan terkejut bila anak-anak ditanya ini itu tentang cerita, mereka canggih loh "bikin" hikmah sendiri atas segala cerita. Tapi karena ini adalah proyek untuk buku pelajaran SD maka dongeng-dongeng saya yang seadanya dirombak sedikit sama Meina agar bisa gamblang segala permasalahan, solusi, dan keteladanannya. Ok, pelajaran juga buat saya. Toh mbak Meina ini orang yang berkompeten di bidang bahasa dan sastra, dan tentu saja dikelilingi para profesor yang jauh lebih ahli dalam bidang ini.
Setelah sekian lama, Akhirnya buku itu selesai juga, Alhamdulillah,
Cerita kemudian berlanjut, buku itu akan diolah lagi menjadi buku pelajaran yang serius. Diolah lagi maksudnya akan digabungkan karya seorang profesional dan dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku yang benar-benar layak diterbitkan dan dipakai sebagai buku pengayaan siswa SD. Ketika Mbak Meina mengabarkannya tentu saja saya bahagiaaaa... tapi dia bilang tidak akan ada nama saya dan nama Meina di buku itu. Buku itu atas nama seorang Profesor. Saya cuma ketawa.
bilang iya, nggak apa-apa.
----
Suatu hari saya dikirimi buku tersebut. Melihat ada dongeng buatan saya di situ saja saya senang...
Setelah saya baca-baca buku itu saya simpan di lemari buku, dan tidak saya keluarkan lagi.
Saya juga tidak membacakan dongeng itu ke anak saya, karena saya pikir anak saya baru 2 tahun, cepat bosan dengan dongeng panjang yang sedikit gambarnya.
Suatu hari saya agak sedikit kaget ketika anak saya yang dua tahun itu menyebut-nyebut tokoh Kuncung.
Rupanya, Simbak di rumah menemukan buku itu, dan dia bacakan dongeng itu ke anak saya walaupun anak saya tampak nggak peduli dan tetap lari sana sini ketika dibacakan. Tapi ternyata dia jadi tahu tokoh-tokohnya, ada si Kuncung, si Katak, Beruang dan lain-lain.
Tidak hanya itu, Simbak juga menceritakan ke tetangga-tetangga bahwa emaknya Sara bikin buku loh, bagus! hahahaha...
Di hari lain, Simbak nanya Bu, itu buku ada lagi nggak? bagus loh bu bukunya, saya minta satu ya Bu, buat anak saya di kampung.
waduh.. saya jadi terharuuu *lap ingus* saya aja yang bikin nyuekin tuh buku, eh Simbak ini malah mau ngasih buku itu ke anaknya. Sayang seribu sayang buku itu hanya ada satu biji. Karena biaya cetak yang agak mahal jadi buku itu dicetak sangat terbatas *Emak irit* Saya hanya punya satu dan ga bisa donk saya kasihin ke si Embak. Saya janji kalau ada lagi nanti saya kasihkan ke Embak.
Beberapa hari berlalu tanpa ada kabar lagi tentang buku itu dicetak lagi atau tidak. Saya juga sudah lupa sebenarnya tentang janji saya ke Embak. Sampai suatu hari si Embak izin mau ke luar katanya mau ke fotokopian. Saya pikir oh mungkin si Embak mau fotokopi KTP atau surat berharga lainnya, ternyata si Embak mau ngopi buku dongeng saya. Oiya yah, kan bisa juga difotokopi. hehehe...
Pulang dari fotokopi si Embak girang bukan main. Katanya nih buuu muraaah lapan belas ribu udah jadi buku (dalam hati saya bilang lah kan item putih mbaaak mana menarik) anak saya di kampung pasti seneng saya kasih buku ini. heheee.. iya iya Mbaaak..
Kebetulan minggu depannya Simbak mudik ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh berupa buku dongeng fotokopian item putih.
Ketika Simbak pulang saya mau nggak mau harus bersih-bersih rumah. Saat itulah saya menemukan sebuah buku tulis kumal yang penuh dengan tulisan tangan. Dasar saya kepo, ada beginian langsung aja saya baca. Tulisanya nggak rapi dan pakai pinsil. Susah mbacanya. And you know what? isi buku itu adalah salinan buku yang saya bikin bersama Meina!. Dari halaman judul sampai setengah buku! Semuanya lengkap sama persis hingga titik komanya! Tulisan tangang!!!!! tulisan siapalagi kalau bukan tulisan si Embak.
Udah mau nangis aja rasanya.
Buku yang saya sepelekan ternyata segitu pentingnya buat si Embak sampai ditulis tangan.
Dan ini gara-gara saya yang nggak serius nanggapin si Embak yang ternyata beneran pengen ngasih buku itu ke anaknya.
Belakangan saya tahu rupaya si Embak menulis buku itu, sampai suatu ketika Simbak dikasih tahu sama temennya kalau ada yang namanya fotokopi,
-----------------------
Setelah kejadian itu saya jadi mikir pentingkah sebuah nama? perlukah pengakuan bahwa saya ikut menulis buku itu? betulkah saya menginginkan pengakuan itu?
Suami saya sering sekali menyuruh saya mengirimkan dongeng-dongeng bikinan saya ke majalah anak-anak, tapi tidak pernah saya lakukan. Kenapa? karena majalah anak-anak itu mahal. Cuma yang kaya yang bisa baca tulisan saya nanti.
Suami saya juga yang protes kenapa nama kamu nggak ada di buku itu nanti? kan plagiat namanya.
saya cuma bilang "Ora pateken"
yang saya pikirkan adalah kalau Buku pengayaan pelajaran itu jadi, dan memakai nama besar Profesor sebagai pengarangnya InsyaAlloh akan banyak lembaga yang percaya untuk menggunakan buku itu, semoga buku itu tersebar ke mana-mana dan buku itu akan dipakai oleh banyak anak. Kalau memang buku itu nantinya bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi ilmu, masih pentingkah nama saya?
Selama bukan untuk hal komersial dan untuk kepentingan pribadi saya sama sekali tidak masalah.
Toh itu hanya sedikit karya saya.
Semoga nantinya saya bisa berkarya lebih banyak lagi, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat lagi.
Kakak ipar hanya senyum dan nyletuk "Yaudah, kamua aja coba bikin buku dongeng yang bagus".. hahaha... skak mat! jawaban saya pun nggak kalah songonya "Iyaa ini sedang bikin" padahal sama sekali belom laaah.. hahaha
Tawaran menarik datang dari Meina, dia mengajak saya ikut serta mbantuin bikin dongeng untuk tesisnya sebagai syarat kelulusan S2 nya di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. wow! pas bener. Langsung saja saya iyakan. Padahal ga pernah saya bikin cerita dongeng. Kalau ndongeng nya doank mah sering, tapi kan ngarang cerita beda sama menceritakannya. Gapapa deh, mari kita coba. Dalam tesisnya, Simbak Meina membuat semacam buku pelajaran untuk anak kelas 3 SD. Dalam buku itu akan ada berbagai dongeng dan anak akan mengambil pelajaran dengan dasar dongeng-dongeng tersebut.
Saya pun mulai membuat dan menyetor dongeng apa adanya. Tanpa memperdulikan bahwa dongeng harus ada hikmahnya. Dongeng anak-anak bagi saya yang penting tulus, apapun ceritanya pasti ada hikmahnya, mungkin kita orang dewasa tidak bisa menemukanya tapi kita akan terkejut bila anak-anak ditanya ini itu tentang cerita, mereka canggih loh "bikin" hikmah sendiri atas segala cerita. Tapi karena ini adalah proyek untuk buku pelajaran SD maka dongeng-dongeng saya yang seadanya dirombak sedikit sama Meina agar bisa gamblang segala permasalahan, solusi, dan keteladanannya. Ok, pelajaran juga buat saya. Toh mbak Meina ini orang yang berkompeten di bidang bahasa dan sastra, dan tentu saja dikelilingi para profesor yang jauh lebih ahli dalam bidang ini.
Setelah sekian lama, Akhirnya buku itu selesai juga, Alhamdulillah,
Cerita kemudian berlanjut, buku itu akan diolah lagi menjadi buku pelajaran yang serius. Diolah lagi maksudnya akan digabungkan karya seorang profesional dan dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku yang benar-benar layak diterbitkan dan dipakai sebagai buku pengayaan siswa SD. Ketika Mbak Meina mengabarkannya tentu saja saya bahagiaaaa... tapi dia bilang tidak akan ada nama saya dan nama Meina di buku itu. Buku itu atas nama seorang Profesor. Saya cuma ketawa.
bilang iya, nggak apa-apa.
----
Suatu hari saya dikirimi buku tersebut. Melihat ada dongeng buatan saya di situ saja saya senang...
Setelah saya baca-baca buku itu saya simpan di lemari buku, dan tidak saya keluarkan lagi.
Saya juga tidak membacakan dongeng itu ke anak saya, karena saya pikir anak saya baru 2 tahun, cepat bosan dengan dongeng panjang yang sedikit gambarnya.
Suatu hari saya agak sedikit kaget ketika anak saya yang dua tahun itu menyebut-nyebut tokoh Kuncung.
Rupanya, Simbak di rumah menemukan buku itu, dan dia bacakan dongeng itu ke anak saya walaupun anak saya tampak nggak peduli dan tetap lari sana sini ketika dibacakan. Tapi ternyata dia jadi tahu tokoh-tokohnya, ada si Kuncung, si Katak, Beruang dan lain-lain.
Tidak hanya itu, Simbak juga menceritakan ke tetangga-tetangga bahwa emaknya Sara bikin buku loh, bagus! hahahaha...
Di hari lain, Simbak nanya Bu, itu buku ada lagi nggak? bagus loh bu bukunya, saya minta satu ya Bu, buat anak saya di kampung.
waduh.. saya jadi terharuuu *lap ingus* saya aja yang bikin nyuekin tuh buku, eh Simbak ini malah mau ngasih buku itu ke anaknya. Sayang seribu sayang buku itu hanya ada satu biji. Karena biaya cetak yang agak mahal jadi buku itu dicetak sangat terbatas *Emak irit* Saya hanya punya satu dan ga bisa donk saya kasihin ke si Embak. Saya janji kalau ada lagi nanti saya kasihkan ke Embak.
Beberapa hari berlalu tanpa ada kabar lagi tentang buku itu dicetak lagi atau tidak. Saya juga sudah lupa sebenarnya tentang janji saya ke Embak. Sampai suatu hari si Embak izin mau ke luar katanya mau ke fotokopian. Saya pikir oh mungkin si Embak mau fotokopi KTP atau surat berharga lainnya, ternyata si Embak mau ngopi buku dongeng saya. Oiya yah, kan bisa juga difotokopi. hehehe...
Pulang dari fotokopi si Embak girang bukan main. Katanya nih buuu muraaah lapan belas ribu udah jadi buku (dalam hati saya bilang lah kan item putih mbaaak mana menarik) anak saya di kampung pasti seneng saya kasih buku ini. heheee.. iya iya Mbaaak..
Kebetulan minggu depannya Simbak mudik ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh berupa buku dongeng fotokopian item putih.
Ketika Simbak pulang saya mau nggak mau harus bersih-bersih rumah. Saat itulah saya menemukan sebuah buku tulis kumal yang penuh dengan tulisan tangan. Dasar saya kepo, ada beginian langsung aja saya baca. Tulisanya nggak rapi dan pakai pinsil. Susah mbacanya. And you know what? isi buku itu adalah salinan buku yang saya bikin bersama Meina!. Dari halaman judul sampai setengah buku! Semuanya lengkap sama persis hingga titik komanya! Tulisan tangang!!!!! tulisan siapalagi kalau bukan tulisan si Embak.
Udah mau nangis aja rasanya.
Buku yang saya sepelekan ternyata segitu pentingnya buat si Embak sampai ditulis tangan.
Dan ini gara-gara saya yang nggak serius nanggapin si Embak yang ternyata beneran pengen ngasih buku itu ke anaknya.
Belakangan saya tahu rupaya si Embak menulis buku itu, sampai suatu ketika Simbak dikasih tahu sama temennya kalau ada yang namanya fotokopi,
-----------------------
Setelah kejadian itu saya jadi mikir pentingkah sebuah nama? perlukah pengakuan bahwa saya ikut menulis buku itu? betulkah saya menginginkan pengakuan itu?
Suami saya sering sekali menyuruh saya mengirimkan dongeng-dongeng bikinan saya ke majalah anak-anak, tapi tidak pernah saya lakukan. Kenapa? karena majalah anak-anak itu mahal. Cuma yang kaya yang bisa baca tulisan saya nanti.
Suami saya juga yang protes kenapa nama kamu nggak ada di buku itu nanti? kan plagiat namanya.
saya cuma bilang "Ora pateken"
yang saya pikirkan adalah kalau Buku pengayaan pelajaran itu jadi, dan memakai nama besar Profesor sebagai pengarangnya InsyaAlloh akan banyak lembaga yang percaya untuk menggunakan buku itu, semoga buku itu tersebar ke mana-mana dan buku itu akan dipakai oleh banyak anak. Kalau memang buku itu nantinya bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi ilmu, masih pentingkah nama saya?
Selama bukan untuk hal komersial dan untuk kepentingan pribadi saya sama sekali tidak masalah.
Toh itu hanya sedikit karya saya.
Semoga nantinya saya bisa berkarya lebih banyak lagi, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat lagi.
Senin, 02 Maret 2015
Perempuan
Perempuan itu diuji keikhlasanya sampai titik nadir paling dasar.
Dihantam ujian mulai dari ujian fisik sampai ujian mental.
Ujian dengan satu pilihan, kamu harus mencintai Tuhanmu dengan rasa yang paling duaalam.
Ada banyak, tapi kusebutkan dua saja contohnya.
Ujian fisik paling dahsyat tentu saja melahirkan, coba tanya sama wanita manapun gimana rasanya pembukaan 5-9? Nggak ada yang bisa njawab.
Nggak ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa sakitnya.
Dulu waktu melahirkan aku sempet mikir MasyaAlloh melahirkan aja rasanya kaya gini, meninggal gimana? bablas aja gimana kalo meninggal sekalian kayaknya udan nanggung, tapi kalo meninggal aku nggak bisa ngrawat anakku donk? nggak jadi deh.. hehehehe.. (Maaf ya Alloh, aku lancang)
Nggak ada pilihan lain selain 'ini semua hanya untukmu Ya Alloh.. karena buat apalagi sakit segitu dahsyatnya kalo bukan untuk Sang Pencipta?
Lalu kalimat Inna solati wanusuki wamahyaya wa mamati' sangat terasa meresap ke setiap urat nadi.
Lalu ujian batin?
Aturan lelaki boleh menikah lagi itu ujian mental yang luar biasa dahsyat juga bagi wanita.
Perempuan itu menikah untuk mengisi dirinya dalam jiwa,
Materi dan urusan fisik itu hiasan semata.
Ketika suaminya menikah lagi huwaaahh itu perampasan 3/4 jiwanya.... bila..
nah ini dia..
ada bila nya..
bilaaaa dia menikah karena cinta suaminya atau cinta keluarganya, beda cerita kalo cinta sama Alloh Yang Kuasa..
Hayoloh, koe meh manut aturanKu pora? lawong sama Aku yo diperbolehkan kok.. (yaa bayanganku si Yang Maha Kuasa lagi ngomong gitu.. hehhe)
Ujian cinta yang luar biasa bukan?
Egomu dirontokkan sedemikian rupa sehingga hanya cinta pada Alloh satu-satunya cara mengikhlaskan diri menjalankan aturan ini. (please ya Alloh, saya jgn diuji dg cara begini yaaa..)
Dihantam ujian mulai dari ujian fisik sampai ujian mental.
Ujian dengan satu pilihan, kamu harus mencintai Tuhanmu dengan rasa yang paling duaalam.
Ada banyak, tapi kusebutkan dua saja contohnya.
Ujian fisik paling dahsyat tentu saja melahirkan, coba tanya sama wanita manapun gimana rasanya pembukaan 5-9? Nggak ada yang bisa njawab.
Nggak ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa sakitnya.
Dulu waktu melahirkan aku sempet mikir MasyaAlloh melahirkan aja rasanya kaya gini, meninggal gimana? bablas aja gimana kalo meninggal sekalian kayaknya udan nanggung, tapi kalo meninggal aku nggak bisa ngrawat anakku donk? nggak jadi deh.. hehehehe.. (Maaf ya Alloh, aku lancang)
Nggak ada pilihan lain selain 'ini semua hanya untukmu Ya Alloh.. karena buat apalagi sakit segitu dahsyatnya kalo bukan untuk Sang Pencipta?
Lalu kalimat Inna solati wanusuki wamahyaya wa mamati' sangat terasa meresap ke setiap urat nadi.
Lalu ujian batin?
Aturan lelaki boleh menikah lagi itu ujian mental yang luar biasa dahsyat juga bagi wanita.
Perempuan itu menikah untuk mengisi dirinya dalam jiwa,
Materi dan urusan fisik itu hiasan semata.
Ketika suaminya menikah lagi huwaaahh itu perampasan 3/4 jiwanya.... bila..
nah ini dia..
ada bila nya..
bilaaaa dia menikah karena cinta suaminya atau cinta keluarganya, beda cerita kalo cinta sama Alloh Yang Kuasa..
Hayoloh, koe meh manut aturanKu pora? lawong sama Aku yo diperbolehkan kok.. (yaa bayanganku si Yang Maha Kuasa lagi ngomong gitu.. hehhe)
Ujian cinta yang luar biasa bukan?
Egomu dirontokkan sedemikian rupa sehingga hanya cinta pada Alloh satu-satunya cara mengikhlaskan diri menjalankan aturan ini. (please ya Alloh, saya jgn diuji dg cara begini yaaa..)
Kamis, 29 Januari 2015
Aksara Takut
Dari Aksara aku banyak sekali belajar. Tentang kehidupan, tentang science, tentang manusia, tentang apapun. Banyak momen yang ooh ternyata gitu.. ko bisa ya..
Satu yang baru kuamati,
Aksara itu nggak takut apapun (tadinya).
Aku sangat takut mendekati phobia (yaa mungkin) sama ulet.
Aksara mah enggak. Pernah suatu hari aku pulang kerja terus buka pintu dan aksara lagi mainan ulet di dalam toples! tidaaaaaaaaakk!! Aksara dengan ceria nunjukin uletnya, mamaaah ini ulet.. ulet nih maaah uleeett..
aku kuat-kuatin ngliatin dan pasang senyum oooh iyaaa itu uletnya Sara yaaah... tapi nggak mau masuk rumah.
Ini pasti ulah bapaknya!
Segeralah kupanggil bapaknya Sara buat buang tuh ulet, dengan dalih ah kasian uletnya di toples ulet kan idupnya di pohon naak..
Suatu hari aku ganti pengasuh, yang mana takut juga ama ulet.
Setiap Aksara nunjukin ulet di pohon depan rumah si embak triak triak histeris hiiii jijik hiii takut hiiii uleeeett..
daaaan akhirnya Aksara ikut ikutan. hheerrrhhhgg
Sekarang Aksara jadi "takut" ulet. kalo ada ulet dia akan menjauh dan bilang hiii jijik hiiii Sara takut ulet hiiiii..
yaelah
udah susah payah aku nahan ketakutan dan pura-pura gembira biar anakku pemberani dan nggak takut hal-hal nggak penting gitu malah hancur sudah sama ajaranya si embak.
Mau kubilangin juga udah terlambat, mau nyalahin si embak ya nggak bisa juga, aku juga yang salah, salah sendiri nggak ngasuh full sendiri, jadi segala ajaran nggak terserap dengan baik.
Jadi ketakutanya Aksara sama Ulet ini ketakutan yang dibuat sama lingkungan. Lawong aslinya Sara itu temennya ulet (eh?) ko sekarang jadi sok-sok menjauh gitu..
Jangan-jangan kita juga gitu yah, kita tidak terlahir dengan rasa takut, lingkungan yang mendoktrin kita dengan ketakutan.
Mulai dari hal sepele kaya takut sama ulet sampai takut miskin, takut, takut nggak punya temen, takut pindah ke tempat baru, takut gagal, dan segala ketakutan lain yang sebenarnya itu nggak ada.
Satu yang baru kuamati,
Aksara itu nggak takut apapun (tadinya).
Aku sangat takut mendekati phobia (yaa mungkin) sama ulet.
Aksara mah enggak. Pernah suatu hari aku pulang kerja terus buka pintu dan aksara lagi mainan ulet di dalam toples! tidaaaaaaaaakk!! Aksara dengan ceria nunjukin uletnya, mamaaah ini ulet.. ulet nih maaah uleeett..
aku kuat-kuatin ngliatin dan pasang senyum oooh iyaaa itu uletnya Sara yaaah... tapi nggak mau masuk rumah.
Ini pasti ulah bapaknya!
Segeralah kupanggil bapaknya Sara buat buang tuh ulet, dengan dalih ah kasian uletnya di toples ulet kan idupnya di pohon naak..
Suatu hari aku ganti pengasuh, yang mana takut juga ama ulet.
Setiap Aksara nunjukin ulet di pohon depan rumah si embak triak triak histeris hiiii jijik hiii takut hiiii uleeeett..
daaaan akhirnya Aksara ikut ikutan. hheerrrhhhgg
Sekarang Aksara jadi "takut" ulet. kalo ada ulet dia akan menjauh dan bilang hiii jijik hiiii Sara takut ulet hiiiii..
yaelah
udah susah payah aku nahan ketakutan dan pura-pura gembira biar anakku pemberani dan nggak takut hal-hal nggak penting gitu malah hancur sudah sama ajaranya si embak.
Mau kubilangin juga udah terlambat, mau nyalahin si embak ya nggak bisa juga, aku juga yang salah, salah sendiri nggak ngasuh full sendiri, jadi segala ajaran nggak terserap dengan baik.
Jadi ketakutanya Aksara sama Ulet ini ketakutan yang dibuat sama lingkungan. Lawong aslinya Sara itu temennya ulet (eh?) ko sekarang jadi sok-sok menjauh gitu..
Jangan-jangan kita juga gitu yah, kita tidak terlahir dengan rasa takut, lingkungan yang mendoktrin kita dengan ketakutan.
Mulai dari hal sepele kaya takut sama ulet sampai takut miskin, takut, takut nggak punya temen, takut pindah ke tempat baru, takut gagal, dan segala ketakutan lain yang sebenarnya itu nggak ada.
Bahagia
Kita nggak akan pernah tahu sepenuhnya apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain. Semua orang punya sejarahnya masing-masing. Kita cuma bisa liat dari luarnya aja. Mungkin dia cerita segala pencapaianya tapi nggak pernah crita sedih-sedihnya, atau sebaliknya.
Dulu, waktu masih sekolah aku nggumunan banget ama temen-temen. Ih ko dia pinter banget pidato sih, berwibawa gitu pasti besok dia bakal jadi pemimpin. Wah dia pinter baget di segala pelajaran pasti besok bakal jadi ilmuwan sukses kerja di perusahaan minyak dan kaya raya, atau ya ampuun dia tuh cantik banget disukai banyak cowok udah gitu ramah dan baik banget pasti besok dapet pasangan paling baik paling ganteng dan punya rumah tangga bahagia..
life goes on..
kita sibuk dengan dunia masing-masing dan sampai suatu saat ada waktu luang dan buka-buka facebook. Adanya facebook bikin kita menemukan temen-temen yang dulu, termasuk temen-temen yang dulu aku kagumin. Facebook menyambungkan dari ini temenya ini, terus ini temennya itu, disambungin si ini sama si itu, terus ooooh ini kan si itu yang dulu begini begitu.. dan sering kali bikin kaget, hah? serius dia sekarang ada di tempat itu? itu pasanganya? lalu buka semua foto-fotonya, lalu ya ampun ternyata dia nggak se"sukses" yang kita bayangkan dulu. Kalian pernah nggak sih ngalamin gitu? apa aku aja? mungkin akibat dari aku yang nggumunan itu kali.
si pintar yang ternyata nggak nglanjutin sekolah
si cantik yang sudah menikah muda dan bercerai
si pemimpin yang ternyata belum kerja
rasa awal ketika menemukan hal-hal seperti itu adalah (kalo kata pak beye sih) prihatin
Tapi setelah dipikir-pikir.
ih ko prihatin sih, emang aku tau dia itu "gagal?" jangan-jangan memang cita-citanya gitu. Jangan-jangan ketika dia nggak sekolah dia punya sejuta pengalaman yang menjadi ilmu tak ternilai dan nggak ada di sekolah.
Jangan-jangan si Cantik lebih bahagia hidupnya sekarang, menikmati jadi single parent berdua sama anaknya.
Jangan-jangan yang belum kerja lagi merintis bisnis atau menemani orangtuanya yang sedang sakit.
yang semuanya berujung pada sebenernya mereka bahagia, kitanya aja yang memandang mereka lebih rendah dan merasa lebih beruntung padahal mereka semua bahagia.
Apalah artinya kaya raya dan bahagia. Apa juga artinya punya pasangan istimewa tapi nggak bahagia, Apa juga artinya sekolah setinggi langit kalo ilmunya nggak bikin dia atau orang lain bahagia.
Kita cuma bisa liat dari sudut pandang kita sendiri, tapi nggak pernah tahu isi hati masing-masing.
Dulu, waktu masih sekolah aku nggumunan banget ama temen-temen. Ih ko dia pinter banget pidato sih, berwibawa gitu pasti besok dia bakal jadi pemimpin. Wah dia pinter baget di segala pelajaran pasti besok bakal jadi ilmuwan sukses kerja di perusahaan minyak dan kaya raya, atau ya ampuun dia tuh cantik banget disukai banyak cowok udah gitu ramah dan baik banget pasti besok dapet pasangan paling baik paling ganteng dan punya rumah tangga bahagia..
life goes on..
kita sibuk dengan dunia masing-masing dan sampai suatu saat ada waktu luang dan buka-buka facebook. Adanya facebook bikin kita menemukan temen-temen yang dulu, termasuk temen-temen yang dulu aku kagumin. Facebook menyambungkan dari ini temenya ini, terus ini temennya itu, disambungin si ini sama si itu, terus ooooh ini kan si itu yang dulu begini begitu.. dan sering kali bikin kaget, hah? serius dia sekarang ada di tempat itu? itu pasanganya? lalu buka semua foto-fotonya, lalu ya ampun ternyata dia nggak se"sukses" yang kita bayangkan dulu. Kalian pernah nggak sih ngalamin gitu? apa aku aja? mungkin akibat dari aku yang nggumunan itu kali.
si pintar yang ternyata nggak nglanjutin sekolah
si cantik yang sudah menikah muda dan bercerai
si pemimpin yang ternyata belum kerja
rasa awal ketika menemukan hal-hal seperti itu adalah (kalo kata pak beye sih) prihatin
Tapi setelah dipikir-pikir.
ih ko prihatin sih, emang aku tau dia itu "gagal?" jangan-jangan memang cita-citanya gitu. Jangan-jangan ketika dia nggak sekolah dia punya sejuta pengalaman yang menjadi ilmu tak ternilai dan nggak ada di sekolah.
Jangan-jangan si Cantik lebih bahagia hidupnya sekarang, menikmati jadi single parent berdua sama anaknya.
Jangan-jangan yang belum kerja lagi merintis bisnis atau menemani orangtuanya yang sedang sakit.
yang semuanya berujung pada sebenernya mereka bahagia, kitanya aja yang memandang mereka lebih rendah dan merasa lebih beruntung padahal mereka semua bahagia.
Apalah artinya kaya raya dan bahagia. Apa juga artinya punya pasangan istimewa tapi nggak bahagia, Apa juga artinya sekolah setinggi langit kalo ilmunya nggak bikin dia atau orang lain bahagia.
Kita cuma bisa liat dari sudut pandang kita sendiri, tapi nggak pernah tahu isi hati masing-masing.
Senin, 08 Desember 2014
Aksara dan Dot
Selama ini saya sering meremehkan anak
kecil. Ah Anak kecil mah kalo nanya tinggal dijawab apa aja, kalo mentok ngarang-ngarang dikit juga bisa. Sekarang saya
berhadapan dengan anak saya sendiri, dan pikiran saya selama ini sama sekali
salah dan tidak bisa digunakan. Hehe..
Umur Aksara sudah dua tahun lebih, sudah
saatnya disapih. Tapi saya juga tidak mau Aksara minum pakai dot. Aksara sudah
terbiasa minum pakai gelas, walau sebenarnya dia lebih suka pakai dot, hanya
saja tidak saya perbolehkan.
“Aksara kan udah bukan dede bayi lagi ya?”
“iya”
“Aksara sekarang anak kecil kan?”
“Iya, anak kecil”
“Kalo anak kecil kan minumnya pakai gelas”
“Iya, pakai gelas”
Dan begitulah dia akhirnya minum susu
memakai gelas. Hingga suatu hari dia bermain bersama temannya. Umurnya sama
dengan Aksara, 2 tahun. Dia ngedot. Aaaaahhh…. Aksara melihat anak itu dengan
sangat heran. Seperti ada balon teks di atas kepalanya bertuliskan ‘loh, dia
kan anak kecil, kok minumnya pakai dot?’
Gawat. Gawat. Gawaaaattt… rusak sudah
doktrin selama ini..
Malamnya Aksara nangis minta susu pakai dot.
“mamaa… minuum dot…”
“Aksara kan udah anak kecil, kalo anak
kecil ngga minum dot”
“temen-temen minum dot…”
……….
Mikir lama
……….
“itu kan temen-temen yang nggak pinter,
Aksara kan pinter jadi nggak minum dot”
Lalu dia nurut lagi. Alhamdulillah..
Fyuuuhh.. selamat..
Langganan:
Postingan (Atom)













.jpg)