Aku kan asalnya dari kampung yak, yang namanya piknik ke Jakarta itu wuiih sueneeeng banget ky plesir ke negeri antah berantah. Liat gedung-gedung besar, liat Mall, liat keramaian.
pernah ditraktir sama sodara makan pizza, ampun daaah senengnya. Keinget bertaun taun kalo aku pernah makan pizzaaaa.. yang mana itu ga ada donks di kampungku.
Sekarang malah jadi perantauan di Jakarta.
Awal-awal merantau ya masih gumunan. Segala makanan yang aneh-aneh dicobain. Makan makanan luar negeri, nonton bioskop yang paling yahud, nonton pertunjukan mahal-mahal, ke Mall mana-mana, main di taman-taman kota yang keren, sampe akhirnya kesampean kerja di gedung bertingkat. Pokoknya yang dulu takgumunke kucobain lah. Sampe pada titik, semua terasa biasa.
Lalu aku kangen being gumunan.
ko aku wes ora gumunan yak.
asik loh padahal.. hhhehehe..
liat foto temen-temen yang di daerah maen sepeda di taman kota, foto-foto di air mancur, lesehan di alun-alun, makan makanan yang kalo aku liat "ih gitu doank difoto-foto, noh foto-fotonya food blogger donk makanannya sippp"
tapi kalo dipikir-pikir kangen deh dengan yang kaya gitu
kangen dengan hal biasa yang terasa istimewa.
jadi gitu yah, kalo segala yang kita inginkan sudah tersedia ngga ada lagi yang istimewa.
eh kaya jadi terasa nggak bersyukur yah?
hehee..
tapi kembali menjadi biasa aja itu asik loh.
masak-masak di rumah, nonton di rumah (guys, kubilangin yah, beli proyektor adalah investasi paling berharga yang pernah kulakukan! hhahaha.. , gelapin kamar, tariks slimut, nonton film apapun yang kita mau bareng keluarga.. sangat istimewa!) ke pasar bareng keluarga, ngracik kopi sendiri, tutup mata dengan kehidupan para food blogger, travel blogger, dan segala blogger-blogger yang kehidupanya terasa bak mimpi, menenangkan banget ternyata.
biar muncul lagi rasa nggumun yang menyenangkan.
Minggu, 24 Mei 2015
Selasa, 21 April 2015
Buku Dongeng
Suatu hari kakak ipar main ke rumah saya. Biasa, kumpul keluarga yang dibahas pasti tentang anak. Dari sekian banyak pembicaraan, entah dari mana asal mulanya kami membicarakan tentang buku anak-anak. Saya mengeluhkan hanya sedikit buku dongeng Indonesia yang bagus, sementara di luar negeri sana buku dongeng bagus-bagus banget. Road Dahl, Dr Seuss, Brothers Grimm adalah beberapa pendongeng yang paling saya idolakan. Kalau di Indonesia saya baru menemukan Clara Ng.
Kakak ipar hanya senyum dan nyletuk "Yaudah, kamua aja coba bikin buku dongeng yang bagus".. hahaha... skak mat! jawaban saya pun nggak kalah songonya "Iyaa ini sedang bikin" padahal sama sekali belom laaah.. hahaha
Tawaran menarik datang dari Meina, dia mengajak saya ikut serta mbantuin bikin dongeng untuk tesisnya sebagai syarat kelulusan S2 nya di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. wow! pas bener. Langsung saja saya iyakan. Padahal ga pernah saya bikin cerita dongeng. Kalau ndongeng nya doank mah sering, tapi kan ngarang cerita beda sama menceritakannya. Gapapa deh, mari kita coba. Dalam tesisnya, Simbak Meina membuat semacam buku pelajaran untuk anak kelas 3 SD. Dalam buku itu akan ada berbagai dongeng dan anak akan mengambil pelajaran dengan dasar dongeng-dongeng tersebut.
Saya pun mulai membuat dan menyetor dongeng apa adanya. Tanpa memperdulikan bahwa dongeng harus ada hikmahnya. Dongeng anak-anak bagi saya yang penting tulus, apapun ceritanya pasti ada hikmahnya, mungkin kita orang dewasa tidak bisa menemukanya tapi kita akan terkejut bila anak-anak ditanya ini itu tentang cerita, mereka canggih loh "bikin" hikmah sendiri atas segala cerita. Tapi karena ini adalah proyek untuk buku pelajaran SD maka dongeng-dongeng saya yang seadanya dirombak sedikit sama Meina agar bisa gamblang segala permasalahan, solusi, dan keteladanannya. Ok, pelajaran juga buat saya. Toh mbak Meina ini orang yang berkompeten di bidang bahasa dan sastra, dan tentu saja dikelilingi para profesor yang jauh lebih ahli dalam bidang ini.
Setelah sekian lama, Akhirnya buku itu selesai juga, Alhamdulillah,
Cerita kemudian berlanjut, buku itu akan diolah lagi menjadi buku pelajaran yang serius. Diolah lagi maksudnya akan digabungkan karya seorang profesional dan dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku yang benar-benar layak diterbitkan dan dipakai sebagai buku pengayaan siswa SD. Ketika Mbak Meina mengabarkannya tentu saja saya bahagiaaaa... tapi dia bilang tidak akan ada nama saya dan nama Meina di buku itu. Buku itu atas nama seorang Profesor. Saya cuma ketawa.
bilang iya, nggak apa-apa.
----
Suatu hari saya dikirimi buku tersebut. Melihat ada dongeng buatan saya di situ saja saya senang...
Setelah saya baca-baca buku itu saya simpan di lemari buku, dan tidak saya keluarkan lagi.
Saya juga tidak membacakan dongeng itu ke anak saya, karena saya pikir anak saya baru 2 tahun, cepat bosan dengan dongeng panjang yang sedikit gambarnya.
Suatu hari saya agak sedikit kaget ketika anak saya yang dua tahun itu menyebut-nyebut tokoh Kuncung.
Rupanya, Simbak di rumah menemukan buku itu, dan dia bacakan dongeng itu ke anak saya walaupun anak saya tampak nggak peduli dan tetap lari sana sini ketika dibacakan. Tapi ternyata dia jadi tahu tokoh-tokohnya, ada si Kuncung, si Katak, Beruang dan lain-lain.
Tidak hanya itu, Simbak juga menceritakan ke tetangga-tetangga bahwa emaknya Sara bikin buku loh, bagus! hahahaha...
Di hari lain, Simbak nanya Bu, itu buku ada lagi nggak? bagus loh bu bukunya, saya minta satu ya Bu, buat anak saya di kampung.
waduh.. saya jadi terharuuu *lap ingus* saya aja yang bikin nyuekin tuh buku, eh Simbak ini malah mau ngasih buku itu ke anaknya. Sayang seribu sayang buku itu hanya ada satu biji. Karena biaya cetak yang agak mahal jadi buku itu dicetak sangat terbatas *Emak irit* Saya hanya punya satu dan ga bisa donk saya kasihin ke si Embak. Saya janji kalau ada lagi nanti saya kasihkan ke Embak.
Beberapa hari berlalu tanpa ada kabar lagi tentang buku itu dicetak lagi atau tidak. Saya juga sudah lupa sebenarnya tentang janji saya ke Embak. Sampai suatu hari si Embak izin mau ke luar katanya mau ke fotokopian. Saya pikir oh mungkin si Embak mau fotokopi KTP atau surat berharga lainnya, ternyata si Embak mau ngopi buku dongeng saya. Oiya yah, kan bisa juga difotokopi. hehehe...
Pulang dari fotokopi si Embak girang bukan main. Katanya nih buuu muraaah lapan belas ribu udah jadi buku (dalam hati saya bilang lah kan item putih mbaaak mana menarik) anak saya di kampung pasti seneng saya kasih buku ini. heheee.. iya iya Mbaaak..
Kebetulan minggu depannya Simbak mudik ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh berupa buku dongeng fotokopian item putih.
Ketika Simbak pulang saya mau nggak mau harus bersih-bersih rumah. Saat itulah saya menemukan sebuah buku tulis kumal yang penuh dengan tulisan tangan. Dasar saya kepo, ada beginian langsung aja saya baca. Tulisanya nggak rapi dan pakai pinsil. Susah mbacanya. And you know what? isi buku itu adalah salinan buku yang saya bikin bersama Meina!. Dari halaman judul sampai setengah buku! Semuanya lengkap sama persis hingga titik komanya! Tulisan tangang!!!!! tulisan siapalagi kalau bukan tulisan si Embak.
Udah mau nangis aja rasanya.
Buku yang saya sepelekan ternyata segitu pentingnya buat si Embak sampai ditulis tangan.
Dan ini gara-gara saya yang nggak serius nanggapin si Embak yang ternyata beneran pengen ngasih buku itu ke anaknya.
Belakangan saya tahu rupaya si Embak menulis buku itu, sampai suatu ketika Simbak dikasih tahu sama temennya kalau ada yang namanya fotokopi,
-----------------------
Setelah kejadian itu saya jadi mikir pentingkah sebuah nama? perlukah pengakuan bahwa saya ikut menulis buku itu? betulkah saya menginginkan pengakuan itu?
Suami saya sering sekali menyuruh saya mengirimkan dongeng-dongeng bikinan saya ke majalah anak-anak, tapi tidak pernah saya lakukan. Kenapa? karena majalah anak-anak itu mahal. Cuma yang kaya yang bisa baca tulisan saya nanti.
Suami saya juga yang protes kenapa nama kamu nggak ada di buku itu nanti? kan plagiat namanya.
saya cuma bilang "Ora pateken"
yang saya pikirkan adalah kalau Buku pengayaan pelajaran itu jadi, dan memakai nama besar Profesor sebagai pengarangnya InsyaAlloh akan banyak lembaga yang percaya untuk menggunakan buku itu, semoga buku itu tersebar ke mana-mana dan buku itu akan dipakai oleh banyak anak. Kalau memang buku itu nantinya bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi ilmu, masih pentingkah nama saya?
Selama bukan untuk hal komersial dan untuk kepentingan pribadi saya sama sekali tidak masalah.
Toh itu hanya sedikit karya saya.
Semoga nantinya saya bisa berkarya lebih banyak lagi, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat lagi.
Kakak ipar hanya senyum dan nyletuk "Yaudah, kamua aja coba bikin buku dongeng yang bagus".. hahaha... skak mat! jawaban saya pun nggak kalah songonya "Iyaa ini sedang bikin" padahal sama sekali belom laaah.. hahaha
Tawaran menarik datang dari Meina, dia mengajak saya ikut serta mbantuin bikin dongeng untuk tesisnya sebagai syarat kelulusan S2 nya di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. wow! pas bener. Langsung saja saya iyakan. Padahal ga pernah saya bikin cerita dongeng. Kalau ndongeng nya doank mah sering, tapi kan ngarang cerita beda sama menceritakannya. Gapapa deh, mari kita coba. Dalam tesisnya, Simbak Meina membuat semacam buku pelajaran untuk anak kelas 3 SD. Dalam buku itu akan ada berbagai dongeng dan anak akan mengambil pelajaran dengan dasar dongeng-dongeng tersebut.
Saya pun mulai membuat dan menyetor dongeng apa adanya. Tanpa memperdulikan bahwa dongeng harus ada hikmahnya. Dongeng anak-anak bagi saya yang penting tulus, apapun ceritanya pasti ada hikmahnya, mungkin kita orang dewasa tidak bisa menemukanya tapi kita akan terkejut bila anak-anak ditanya ini itu tentang cerita, mereka canggih loh "bikin" hikmah sendiri atas segala cerita. Tapi karena ini adalah proyek untuk buku pelajaran SD maka dongeng-dongeng saya yang seadanya dirombak sedikit sama Meina agar bisa gamblang segala permasalahan, solusi, dan keteladanannya. Ok, pelajaran juga buat saya. Toh mbak Meina ini orang yang berkompeten di bidang bahasa dan sastra, dan tentu saja dikelilingi para profesor yang jauh lebih ahli dalam bidang ini.
Setelah sekian lama, Akhirnya buku itu selesai juga, Alhamdulillah,
Cerita kemudian berlanjut, buku itu akan diolah lagi menjadi buku pelajaran yang serius. Diolah lagi maksudnya akan digabungkan karya seorang profesional dan dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku yang benar-benar layak diterbitkan dan dipakai sebagai buku pengayaan siswa SD. Ketika Mbak Meina mengabarkannya tentu saja saya bahagiaaaa... tapi dia bilang tidak akan ada nama saya dan nama Meina di buku itu. Buku itu atas nama seorang Profesor. Saya cuma ketawa.
bilang iya, nggak apa-apa.
----
Suatu hari saya dikirimi buku tersebut. Melihat ada dongeng buatan saya di situ saja saya senang...
Setelah saya baca-baca buku itu saya simpan di lemari buku, dan tidak saya keluarkan lagi.
Saya juga tidak membacakan dongeng itu ke anak saya, karena saya pikir anak saya baru 2 tahun, cepat bosan dengan dongeng panjang yang sedikit gambarnya.
Suatu hari saya agak sedikit kaget ketika anak saya yang dua tahun itu menyebut-nyebut tokoh Kuncung.
Rupanya, Simbak di rumah menemukan buku itu, dan dia bacakan dongeng itu ke anak saya walaupun anak saya tampak nggak peduli dan tetap lari sana sini ketika dibacakan. Tapi ternyata dia jadi tahu tokoh-tokohnya, ada si Kuncung, si Katak, Beruang dan lain-lain.
Tidak hanya itu, Simbak juga menceritakan ke tetangga-tetangga bahwa emaknya Sara bikin buku loh, bagus! hahahaha...
Di hari lain, Simbak nanya Bu, itu buku ada lagi nggak? bagus loh bu bukunya, saya minta satu ya Bu, buat anak saya di kampung.
waduh.. saya jadi terharuuu *lap ingus* saya aja yang bikin nyuekin tuh buku, eh Simbak ini malah mau ngasih buku itu ke anaknya. Sayang seribu sayang buku itu hanya ada satu biji. Karena biaya cetak yang agak mahal jadi buku itu dicetak sangat terbatas *Emak irit* Saya hanya punya satu dan ga bisa donk saya kasihin ke si Embak. Saya janji kalau ada lagi nanti saya kasihkan ke Embak.
Beberapa hari berlalu tanpa ada kabar lagi tentang buku itu dicetak lagi atau tidak. Saya juga sudah lupa sebenarnya tentang janji saya ke Embak. Sampai suatu hari si Embak izin mau ke luar katanya mau ke fotokopian. Saya pikir oh mungkin si Embak mau fotokopi KTP atau surat berharga lainnya, ternyata si Embak mau ngopi buku dongeng saya. Oiya yah, kan bisa juga difotokopi. hehehe...
Pulang dari fotokopi si Embak girang bukan main. Katanya nih buuu muraaah lapan belas ribu udah jadi buku (dalam hati saya bilang lah kan item putih mbaaak mana menarik) anak saya di kampung pasti seneng saya kasih buku ini. heheee.. iya iya Mbaaak..
Kebetulan minggu depannya Simbak mudik ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh berupa buku dongeng fotokopian item putih.
Ketika Simbak pulang saya mau nggak mau harus bersih-bersih rumah. Saat itulah saya menemukan sebuah buku tulis kumal yang penuh dengan tulisan tangan. Dasar saya kepo, ada beginian langsung aja saya baca. Tulisanya nggak rapi dan pakai pinsil. Susah mbacanya. And you know what? isi buku itu adalah salinan buku yang saya bikin bersama Meina!. Dari halaman judul sampai setengah buku! Semuanya lengkap sama persis hingga titik komanya! Tulisan tangang!!!!! tulisan siapalagi kalau bukan tulisan si Embak.
Udah mau nangis aja rasanya.
Buku yang saya sepelekan ternyata segitu pentingnya buat si Embak sampai ditulis tangan.
Dan ini gara-gara saya yang nggak serius nanggapin si Embak yang ternyata beneran pengen ngasih buku itu ke anaknya.
Belakangan saya tahu rupaya si Embak menulis buku itu, sampai suatu ketika Simbak dikasih tahu sama temennya kalau ada yang namanya fotokopi,
-----------------------
Setelah kejadian itu saya jadi mikir pentingkah sebuah nama? perlukah pengakuan bahwa saya ikut menulis buku itu? betulkah saya menginginkan pengakuan itu?
Suami saya sering sekali menyuruh saya mengirimkan dongeng-dongeng bikinan saya ke majalah anak-anak, tapi tidak pernah saya lakukan. Kenapa? karena majalah anak-anak itu mahal. Cuma yang kaya yang bisa baca tulisan saya nanti.
Suami saya juga yang protes kenapa nama kamu nggak ada di buku itu nanti? kan plagiat namanya.
saya cuma bilang "Ora pateken"
yang saya pikirkan adalah kalau Buku pengayaan pelajaran itu jadi, dan memakai nama besar Profesor sebagai pengarangnya InsyaAlloh akan banyak lembaga yang percaya untuk menggunakan buku itu, semoga buku itu tersebar ke mana-mana dan buku itu akan dipakai oleh banyak anak. Kalau memang buku itu nantinya bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi ilmu, masih pentingkah nama saya?
Selama bukan untuk hal komersial dan untuk kepentingan pribadi saya sama sekali tidak masalah.
Toh itu hanya sedikit karya saya.
Semoga nantinya saya bisa berkarya lebih banyak lagi, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat lagi.
Senin, 02 Maret 2015
Perempuan
Perempuan itu diuji keikhlasanya sampai titik nadir paling dasar.
Dihantam ujian mulai dari ujian fisik sampai ujian mental.
Ujian dengan satu pilihan, kamu harus mencintai Tuhanmu dengan rasa yang paling duaalam.
Ada banyak, tapi kusebutkan dua saja contohnya.
Ujian fisik paling dahsyat tentu saja melahirkan, coba tanya sama wanita manapun gimana rasanya pembukaan 5-9? Nggak ada yang bisa njawab.
Nggak ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa sakitnya.
Dulu waktu melahirkan aku sempet mikir MasyaAlloh melahirkan aja rasanya kaya gini, meninggal gimana? bablas aja gimana kalo meninggal sekalian kayaknya udan nanggung, tapi kalo meninggal aku nggak bisa ngrawat anakku donk? nggak jadi deh.. hehehehe.. (Maaf ya Alloh, aku lancang)
Nggak ada pilihan lain selain 'ini semua hanya untukmu Ya Alloh.. karena buat apalagi sakit segitu dahsyatnya kalo bukan untuk Sang Pencipta?
Lalu kalimat Inna solati wanusuki wamahyaya wa mamati' sangat terasa meresap ke setiap urat nadi.
Lalu ujian batin?
Aturan lelaki boleh menikah lagi itu ujian mental yang luar biasa dahsyat juga bagi wanita.
Perempuan itu menikah untuk mengisi dirinya dalam jiwa,
Materi dan urusan fisik itu hiasan semata.
Ketika suaminya menikah lagi huwaaahh itu perampasan 3/4 jiwanya.... bila..
nah ini dia..
ada bila nya..
bilaaaa dia menikah karena cinta suaminya atau cinta keluarganya, beda cerita kalo cinta sama Alloh Yang Kuasa..
Hayoloh, koe meh manut aturanKu pora? lawong sama Aku yo diperbolehkan kok.. (yaa bayanganku si Yang Maha Kuasa lagi ngomong gitu.. hehhe)
Ujian cinta yang luar biasa bukan?
Egomu dirontokkan sedemikian rupa sehingga hanya cinta pada Alloh satu-satunya cara mengikhlaskan diri menjalankan aturan ini. (please ya Alloh, saya jgn diuji dg cara begini yaaa..)
Dihantam ujian mulai dari ujian fisik sampai ujian mental.
Ujian dengan satu pilihan, kamu harus mencintai Tuhanmu dengan rasa yang paling duaalam.
Ada banyak, tapi kusebutkan dua saja contohnya.
Ujian fisik paling dahsyat tentu saja melahirkan, coba tanya sama wanita manapun gimana rasanya pembukaan 5-9? Nggak ada yang bisa njawab.
Nggak ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa sakitnya.
Dulu waktu melahirkan aku sempet mikir MasyaAlloh melahirkan aja rasanya kaya gini, meninggal gimana? bablas aja gimana kalo meninggal sekalian kayaknya udan nanggung, tapi kalo meninggal aku nggak bisa ngrawat anakku donk? nggak jadi deh.. hehehehe.. (Maaf ya Alloh, aku lancang)
Nggak ada pilihan lain selain 'ini semua hanya untukmu Ya Alloh.. karena buat apalagi sakit segitu dahsyatnya kalo bukan untuk Sang Pencipta?
Lalu kalimat Inna solati wanusuki wamahyaya wa mamati' sangat terasa meresap ke setiap urat nadi.
Lalu ujian batin?
Aturan lelaki boleh menikah lagi itu ujian mental yang luar biasa dahsyat juga bagi wanita.
Perempuan itu menikah untuk mengisi dirinya dalam jiwa,
Materi dan urusan fisik itu hiasan semata.
Ketika suaminya menikah lagi huwaaahh itu perampasan 3/4 jiwanya.... bila..
nah ini dia..
ada bila nya..
bilaaaa dia menikah karena cinta suaminya atau cinta keluarganya, beda cerita kalo cinta sama Alloh Yang Kuasa..
Hayoloh, koe meh manut aturanKu pora? lawong sama Aku yo diperbolehkan kok.. (yaa bayanganku si Yang Maha Kuasa lagi ngomong gitu.. hehhe)
Ujian cinta yang luar biasa bukan?
Egomu dirontokkan sedemikian rupa sehingga hanya cinta pada Alloh satu-satunya cara mengikhlaskan diri menjalankan aturan ini. (please ya Alloh, saya jgn diuji dg cara begini yaaa..)
Kamis, 29 Januari 2015
Aksara Takut
Dari Aksara aku banyak sekali belajar. Tentang kehidupan, tentang science, tentang manusia, tentang apapun. Banyak momen yang ooh ternyata gitu.. ko bisa ya..
Satu yang baru kuamati,
Aksara itu nggak takut apapun (tadinya).
Aku sangat takut mendekati phobia (yaa mungkin) sama ulet.
Aksara mah enggak. Pernah suatu hari aku pulang kerja terus buka pintu dan aksara lagi mainan ulet di dalam toples! tidaaaaaaaaakk!! Aksara dengan ceria nunjukin uletnya, mamaaah ini ulet.. ulet nih maaah uleeett..
aku kuat-kuatin ngliatin dan pasang senyum oooh iyaaa itu uletnya Sara yaaah... tapi nggak mau masuk rumah.
Ini pasti ulah bapaknya!
Segeralah kupanggil bapaknya Sara buat buang tuh ulet, dengan dalih ah kasian uletnya di toples ulet kan idupnya di pohon naak..
Suatu hari aku ganti pengasuh, yang mana takut juga ama ulet.
Setiap Aksara nunjukin ulet di pohon depan rumah si embak triak triak histeris hiiii jijik hiii takut hiiii uleeeett..
daaaan akhirnya Aksara ikut ikutan. hheerrrhhhgg
Sekarang Aksara jadi "takut" ulet. kalo ada ulet dia akan menjauh dan bilang hiii jijik hiiii Sara takut ulet hiiiii..
yaelah
udah susah payah aku nahan ketakutan dan pura-pura gembira biar anakku pemberani dan nggak takut hal-hal nggak penting gitu malah hancur sudah sama ajaranya si embak.
Mau kubilangin juga udah terlambat, mau nyalahin si embak ya nggak bisa juga, aku juga yang salah, salah sendiri nggak ngasuh full sendiri, jadi segala ajaran nggak terserap dengan baik.
Jadi ketakutanya Aksara sama Ulet ini ketakutan yang dibuat sama lingkungan. Lawong aslinya Sara itu temennya ulet (eh?) ko sekarang jadi sok-sok menjauh gitu..
Jangan-jangan kita juga gitu yah, kita tidak terlahir dengan rasa takut, lingkungan yang mendoktrin kita dengan ketakutan.
Mulai dari hal sepele kaya takut sama ulet sampai takut miskin, takut, takut nggak punya temen, takut pindah ke tempat baru, takut gagal, dan segala ketakutan lain yang sebenarnya itu nggak ada.
Satu yang baru kuamati,
Aksara itu nggak takut apapun (tadinya).
Aku sangat takut mendekati phobia (yaa mungkin) sama ulet.
Aksara mah enggak. Pernah suatu hari aku pulang kerja terus buka pintu dan aksara lagi mainan ulet di dalam toples! tidaaaaaaaaakk!! Aksara dengan ceria nunjukin uletnya, mamaaah ini ulet.. ulet nih maaah uleeett..
aku kuat-kuatin ngliatin dan pasang senyum oooh iyaaa itu uletnya Sara yaaah... tapi nggak mau masuk rumah.
Ini pasti ulah bapaknya!
Segeralah kupanggil bapaknya Sara buat buang tuh ulet, dengan dalih ah kasian uletnya di toples ulet kan idupnya di pohon naak..
Suatu hari aku ganti pengasuh, yang mana takut juga ama ulet.
Setiap Aksara nunjukin ulet di pohon depan rumah si embak triak triak histeris hiiii jijik hiii takut hiiii uleeeett..
daaaan akhirnya Aksara ikut ikutan. hheerrrhhhgg
Sekarang Aksara jadi "takut" ulet. kalo ada ulet dia akan menjauh dan bilang hiii jijik hiiii Sara takut ulet hiiiii..
yaelah
udah susah payah aku nahan ketakutan dan pura-pura gembira biar anakku pemberani dan nggak takut hal-hal nggak penting gitu malah hancur sudah sama ajaranya si embak.
Mau kubilangin juga udah terlambat, mau nyalahin si embak ya nggak bisa juga, aku juga yang salah, salah sendiri nggak ngasuh full sendiri, jadi segala ajaran nggak terserap dengan baik.
Jadi ketakutanya Aksara sama Ulet ini ketakutan yang dibuat sama lingkungan. Lawong aslinya Sara itu temennya ulet (eh?) ko sekarang jadi sok-sok menjauh gitu..
Jangan-jangan kita juga gitu yah, kita tidak terlahir dengan rasa takut, lingkungan yang mendoktrin kita dengan ketakutan.
Mulai dari hal sepele kaya takut sama ulet sampai takut miskin, takut, takut nggak punya temen, takut pindah ke tempat baru, takut gagal, dan segala ketakutan lain yang sebenarnya itu nggak ada.
Bahagia
Kita nggak akan pernah tahu sepenuhnya apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain. Semua orang punya sejarahnya masing-masing. Kita cuma bisa liat dari luarnya aja. Mungkin dia cerita segala pencapaianya tapi nggak pernah crita sedih-sedihnya, atau sebaliknya.
Dulu, waktu masih sekolah aku nggumunan banget ama temen-temen. Ih ko dia pinter banget pidato sih, berwibawa gitu pasti besok dia bakal jadi pemimpin. Wah dia pinter baget di segala pelajaran pasti besok bakal jadi ilmuwan sukses kerja di perusahaan minyak dan kaya raya, atau ya ampuun dia tuh cantik banget disukai banyak cowok udah gitu ramah dan baik banget pasti besok dapet pasangan paling baik paling ganteng dan punya rumah tangga bahagia..
life goes on..
kita sibuk dengan dunia masing-masing dan sampai suatu saat ada waktu luang dan buka-buka facebook. Adanya facebook bikin kita menemukan temen-temen yang dulu, termasuk temen-temen yang dulu aku kagumin. Facebook menyambungkan dari ini temenya ini, terus ini temennya itu, disambungin si ini sama si itu, terus ooooh ini kan si itu yang dulu begini begitu.. dan sering kali bikin kaget, hah? serius dia sekarang ada di tempat itu? itu pasanganya? lalu buka semua foto-fotonya, lalu ya ampun ternyata dia nggak se"sukses" yang kita bayangkan dulu. Kalian pernah nggak sih ngalamin gitu? apa aku aja? mungkin akibat dari aku yang nggumunan itu kali.
si pintar yang ternyata nggak nglanjutin sekolah
si cantik yang sudah menikah muda dan bercerai
si pemimpin yang ternyata belum kerja
rasa awal ketika menemukan hal-hal seperti itu adalah (kalo kata pak beye sih) prihatin
Tapi setelah dipikir-pikir.
ih ko prihatin sih, emang aku tau dia itu "gagal?" jangan-jangan memang cita-citanya gitu. Jangan-jangan ketika dia nggak sekolah dia punya sejuta pengalaman yang menjadi ilmu tak ternilai dan nggak ada di sekolah.
Jangan-jangan si Cantik lebih bahagia hidupnya sekarang, menikmati jadi single parent berdua sama anaknya.
Jangan-jangan yang belum kerja lagi merintis bisnis atau menemani orangtuanya yang sedang sakit.
yang semuanya berujung pada sebenernya mereka bahagia, kitanya aja yang memandang mereka lebih rendah dan merasa lebih beruntung padahal mereka semua bahagia.
Apalah artinya kaya raya dan bahagia. Apa juga artinya punya pasangan istimewa tapi nggak bahagia, Apa juga artinya sekolah setinggi langit kalo ilmunya nggak bikin dia atau orang lain bahagia.
Kita cuma bisa liat dari sudut pandang kita sendiri, tapi nggak pernah tahu isi hati masing-masing.
Dulu, waktu masih sekolah aku nggumunan banget ama temen-temen. Ih ko dia pinter banget pidato sih, berwibawa gitu pasti besok dia bakal jadi pemimpin. Wah dia pinter baget di segala pelajaran pasti besok bakal jadi ilmuwan sukses kerja di perusahaan minyak dan kaya raya, atau ya ampuun dia tuh cantik banget disukai banyak cowok udah gitu ramah dan baik banget pasti besok dapet pasangan paling baik paling ganteng dan punya rumah tangga bahagia..
life goes on..
kita sibuk dengan dunia masing-masing dan sampai suatu saat ada waktu luang dan buka-buka facebook. Adanya facebook bikin kita menemukan temen-temen yang dulu, termasuk temen-temen yang dulu aku kagumin. Facebook menyambungkan dari ini temenya ini, terus ini temennya itu, disambungin si ini sama si itu, terus ooooh ini kan si itu yang dulu begini begitu.. dan sering kali bikin kaget, hah? serius dia sekarang ada di tempat itu? itu pasanganya? lalu buka semua foto-fotonya, lalu ya ampun ternyata dia nggak se"sukses" yang kita bayangkan dulu. Kalian pernah nggak sih ngalamin gitu? apa aku aja? mungkin akibat dari aku yang nggumunan itu kali.
si pintar yang ternyata nggak nglanjutin sekolah
si cantik yang sudah menikah muda dan bercerai
si pemimpin yang ternyata belum kerja
rasa awal ketika menemukan hal-hal seperti itu adalah (kalo kata pak beye sih) prihatin
Tapi setelah dipikir-pikir.
ih ko prihatin sih, emang aku tau dia itu "gagal?" jangan-jangan memang cita-citanya gitu. Jangan-jangan ketika dia nggak sekolah dia punya sejuta pengalaman yang menjadi ilmu tak ternilai dan nggak ada di sekolah.
Jangan-jangan si Cantik lebih bahagia hidupnya sekarang, menikmati jadi single parent berdua sama anaknya.
Jangan-jangan yang belum kerja lagi merintis bisnis atau menemani orangtuanya yang sedang sakit.
yang semuanya berujung pada sebenernya mereka bahagia, kitanya aja yang memandang mereka lebih rendah dan merasa lebih beruntung padahal mereka semua bahagia.
Apalah artinya kaya raya dan bahagia. Apa juga artinya punya pasangan istimewa tapi nggak bahagia, Apa juga artinya sekolah setinggi langit kalo ilmunya nggak bikin dia atau orang lain bahagia.
Kita cuma bisa liat dari sudut pandang kita sendiri, tapi nggak pernah tahu isi hati masing-masing.
Senin, 08 Desember 2014
Aksara dan Dot
Selama ini saya sering meremehkan anak
kecil. Ah Anak kecil mah kalo nanya tinggal dijawab apa aja, kalo mentok ngarang-ngarang dikit juga bisa. Sekarang saya
berhadapan dengan anak saya sendiri, dan pikiran saya selama ini sama sekali
salah dan tidak bisa digunakan. Hehe..
Umur Aksara sudah dua tahun lebih, sudah
saatnya disapih. Tapi saya juga tidak mau Aksara minum pakai dot. Aksara sudah
terbiasa minum pakai gelas, walau sebenarnya dia lebih suka pakai dot, hanya
saja tidak saya perbolehkan.
“Aksara kan udah bukan dede bayi lagi ya?”
“iya”
“Aksara sekarang anak kecil kan?”
“Iya, anak kecil”
“Kalo anak kecil kan minumnya pakai gelas”
“Iya, pakai gelas”
Dan begitulah dia akhirnya minum susu
memakai gelas. Hingga suatu hari dia bermain bersama temannya. Umurnya sama
dengan Aksara, 2 tahun. Dia ngedot. Aaaaahhh…. Aksara melihat anak itu dengan
sangat heran. Seperti ada balon teks di atas kepalanya bertuliskan ‘loh, dia
kan anak kecil, kok minumnya pakai dot?’
Gawat. Gawat. Gawaaaattt… rusak sudah
doktrin selama ini..
Malamnya Aksara nangis minta susu pakai dot.
“mamaa… minuum dot…”
“Aksara kan udah anak kecil, kalo anak
kecil ngga minum dot”
“temen-temen minum dot…”
……….
Mikir lama
……….
“itu kan temen-temen yang nggak pinter,
Aksara kan pinter jadi nggak minum dot”
Lalu dia nurut lagi. Alhamdulillah..
Fyuuuhh.. selamat..
Minggu, 24 Agustus 2014
Para Pengasuh
Setiap manusia memiliki jalan cerita hidup yang luar biasa. Pengalaman
hidupnyalah yang menempanya menjadi dia saat ini. Apakah bisa menjadikanya
bijaksana atau biasa saja. Banyak orang bilang, pengalaman adalah guru yang
terbaik. Betul sekali. Walaupun tidak harus pengalaman diri sendiri. Kita bisa
belajar dari pengalaman orang lain bukan?.
Aku sudah berganti pengasuh anak (kalau tidak salah) lima kali. Lima orang berbeda dengan karakter
dan cerita hidup yang berbeda-beda. Kami tinggal satu atap, tentu banyak cerita
yang kami bagi.. Aku tak pernah menyepelekan cerita hidup siapapun. Bahkan untuk
para pengasuh anakku di rumah. Dan aku banyak sekali belajar dari mereka
1.
Mba Am
Mba am ini istri dari seorang tukang kayu. Dia tetanggaku.
Dia mau bekerja hanya karena butuh uang. Jadi bukan orang yang terbiasa bekerja
sebagai asisten rumah tangga. Karena sebetulnya beliau ini ibu rumah tangga
dengan pekerjaan tambahan yang tidak tentu. Satu pelajaran yang aku ingat betul
dari mba am. Dia tidak pernah makan mendahului suaminya. Jadi dia harus
memastikan suaminya sudah makan baru dia akan makan. Atau dia menemani suaminya
makan. Pokoknya apapun yang terjadi pantang dia makan duluan. Ndak boleh, nanti
kalo kita makan mendahului suami jadi kebiasaan. istri bisa tidak takut sama
suami, nanti jadi suka mbantah suami, laki-laki itu nomor satu dan harus
dinomorsatukan, begitu rumah tangga harus dijalankan, begitu kata mbak am. Luar
biasa kupikir. Dalam kehidupannya yang sederhana dia tahu sendi utama dalam
berumah tangga. Buktinya rumah tangganya awet langgeng hingga sekarang dia
sudah berumur. Dan dia berhenti bekerja di tempatku karena merasa terlalu ‘lama’
meninggalkan suaminya. 3 bulan saja. Tak mungkin lah aku menahan seseorang
untuk berjihad mengabdi pada suami. Jadi slamat bertemu keluarga mba am!
3.
Mba Jar
Mba jar ini pendengarannya agak kurang. Sejak
kecil hingga dewasa kemampuan pendengarannya terus berkurang. Tapi dia tidak
pernah menjadi seorang pemalas. Dia malah menjadi salah satu tulang punggung
keluarganya. Dia yang membiayai ayah, ibu, adik, keponakan. Awalnya dia bekerja
di pabrik kayu lapis kemudian keluar untuk bekerja di tempatku. Semangat bekerjanya
luar biasa. Dan dia berani menjelajah tempat baru di Jakarta. Ke pasar, ke
mall, dia berani pergi sendirian. Kalo aku mah mana berani. Berapa tahun di Jakarta
tetap saja tempat ini terasa ngeri. Mba jar berhenti bekerja karena ibunya
memang sudah tua dan sakit-sakitan sementara tidak ada anak perempuannya yang
bisa membantu menjaganya. Akhirnya mba jar pulang untuk merawat ibunya.
4.
Cici
Nah ini dia salah satu pengasuh anakku yg
paling favorit. Umurnya lebih muda 3 tahun dariku. Anaknya cantik,
penampilannya juga nggak ndeso. Sangat rajin dan rapih. Dari awal dia masuk
bekerja dia sudah bilang hanya bekerja sebentar saja, karena sudah bertunangan.
Nanti kalau sudah menikah dia mau jadi ibu rumah tangga saja. Benar saja, 3
bulan dia bekerja di tempatku dia mengundurkan diri. Sempat dia meminta izin
dari calon suaminya untuk bekerja, toh dia bekerja di Jakarta dan suaminya di
bogor, sabtu minggu masih bisa pulang, tapi suaminya tetap tidak mengizinkan. Suaminya
bilang kalau dia tidak butuh uang banyak. Jangan berpikir duniawi saja. Dengan sang
suami menjadi satpam itu sudah cukup, cici hanya perlu di rumah mengurus suami.
Aku cukup tertohok dengan pasangan ini. Dengan penghasilannya yang tidak
seberapa mereka sama sekali tidak takut kekurangan. Bahkan menolak untuk
mendapatkan penghasilan tambahan karena bagi mereka bukan seperti itu konsep
berkeluarga. Komitmen mereka sangat kuat dalam hal ini, aku sampai malu dan
berpikir ulang, apakah aku hanya berfikir tentang dunia?
5.
Bude Kip
Kalo Bude kip dia kuminta bantuan untuk
mengasuh Aksara sebentar karena aku belum mendapat pengasuh yang baru. Bude ini
seumur hidupnya full sebagai ibu rumah tangga. Jadi urusan rumah tangga dia
sangat ahli. Aku bangun pagi jam setengah 5 bude sudah selesai beres-beres
rumah. Jam setengah 6 aku mau berangkat ke kantor, bude sudah selesai masak! Luar
biasa. Kalau aku mana sanggup.. hhehe.. Bude juga mengajari Aksara banyak
sekali lagu anak-anak. Bahkan lagu-lagu yang aku belum pernah dengar
sebelumnya.
Pernah suatu hari bude kip mengerik
punggungku. Kemudian memijit pelan. Dia bilang, pak de paling suka begini nih
nak, dipijit setelah dikerik. Kupikir bagaimana pakde nggak cinta sama bude
kalau gini caranya. Rumah beres, ngasuh anak jago, pijitnya enak banget. Harus dicontoh
nih.
6.
Yayu Darsem
Yayu Darsem ini pengasuh terbaru di
rumahku. Belum satu bulan dia bekerja tapi banyak sekali pelajaran yang bisa
kuperoleh. Prinsip yayu Darsem adalah hemat! Harus hemat! Kalau dilogika kan
itu uangnya majikannya yah, tapi nggak boleh itu yang namanya boros. Sisa makanan
harus habis. Bahkan sisa kerak nasi di magicjar pun dia olah lagi menjadi
panganan manis yang lezat (entah apa namanya). Pernah sekali aku kehilangan
helm. Waktu aku mau beli helm yang baru dilarang sama Yayu, dia ambil helm
hadiah bawaan dari motor lalu dibersihkan. Dia bilang mbak, jangan beli lagi
yah, sayang uangnya, pakai ini saja, kan masih bagus, nih yayu bersihin sampe
kinclong. :)
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)