Ada satu tulisan dari MH.Ainun Nadjib yang begitu menohok.
Aku lupa bagaimana persisnya, tapi kira-kira begini:
"Mengapa kamu menggunakan Alloh hanya untuk kepentingan duniawimu?"
Senin, 13 Agustus 2012
Pengalaman
Berjuta-juta orang bilang bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik.
tapi apa itu pengalaman?
Bagiku, pengalaman bukanlah seberapa banyak tempat wisata yang aku kunjungi, bukan seberapa sering berwisata kuliner kesana kemari, bukan seberapa banyak orang yang aku kenal, tapi bagaimana aku menghayati setiap kejadian sekecil apapun dalam hidupku.
tapi apa itu pengalaman?
Bagiku, pengalaman bukanlah seberapa banyak tempat wisata yang aku kunjungi, bukan seberapa sering berwisata kuliner kesana kemari, bukan seberapa banyak orang yang aku kenal, tapi bagaimana aku menghayati setiap kejadian sekecil apapun dalam hidupku.
Obwur, OBrolan ngaWur
Ini hanya obrolan sembarangan antara aku dan suamiku, ga penting, ga jelas, (kadang) ga bener, tapi terlalu sayang kalo sampe aku lupa, jadi kutulis saja, karena setiap memory terlalu berarti kalau hanya dilewati.. tsaaah..
Puasa
Bismillah.. semoga Alloh mengampuni kami yang ngobrol sembarangan soal puasa.
Dalam surat Al-Baqarah : 183 " Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," jelas tersebut bahwa orang yang diwajibkan berpuasa adalah orang-orang beriman. Lalu kami menelaah lagi, kenapa demikian?
Puasa secara umum merupakan kegiatan menahan diri yang tidak hanya dilakukan oleh orang Islam, tapi juga dilakukan oleh agama-agama lain dan juga orang-orang kejawen dengan berbagai aturanya masing-masing yang intinya ya menahan diri dari sesuatu. Bagaimana bisa orang bisa menahan dirinya dari sesuatu yang sebenarnya nikmat, sesuatu yang pada hakikatnya ia ingin melakukanya? tak lain tak bukan adalah karena iman. Apapun yang manusia imani, itulan yang menjadi dasar seseorang bisa rela dan ikhlas mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu. Tidak mungkin bisa seseorang yang tidak memiliki keyakinan apa-apa iseng-iseng melakukan puasa dengan berbagai ketentuan yang ketat. Pasti ada keyakinan kuat dalam hatinya yang mendorongnya untuk menahan diri. Sebagai seorang muslim, pasti Iman kepada Alloh lah yang menjadi dasar utama untuk ketat melawan hawa nafsunya.
Pembangkit Listrik Tenaga Hampa
Obrolan ini muncul saat kami membaca sebuah berita tentang sesesorang yang mengaku menemukan pembangkit listrik tanpa adanya bahan bakar, yang ternyata semuanya hasil rekayasa yang tidak terbukti kebenaranya. Kami pun mengingat ingat pelajaran saat sekolah dulu. Bukankah suatu benda yang bergerak di dalam ruang hampa akan terus bergerak? hanya saja perlu ada pemicu pertama untuk membuatnya bergerak. Bisa dibayangkan bila ada orang yang bisa memanfaatkan hal ini untuk menghasilkan Energi, betapa kerennya ada pembangkit listrik Tenaga Hampa ini, hanya perlu dipacu sedikit si pembangkit energi bisa bergerak terus menerus, masalahnya gimana caranya menyalurkan energi yg dihasilkan dari ruang hampa ke ruang non hampa? (anak teknik yang baca ini mungkin ngikik-ngikik dengan imajinasi kami yang ngawur, hehe.. ini hanya imajinasi dengan ilmu yang sangat minim, hanya obrolan orang awam belaka)
Gubernur Jakarta
Siapapun Gubernurnya dia minimal harus bisa membuat suatu gebrakan yang besar! ga perlu banyak-banyak, satu aj udah cukup. Contohnya Pak Sutiyoso tuh, beliau membuat busway yang meskipun belum 100% efektif tapi minimal beliau dikenang oleh warga Jakarta secara positif, berhasil mencetuskan busway. Ini akan menjadi citra baik siapapun yang akan menjadi gubernur nanti
to be continued..
Senin, 16 Juli 2012
Dari Ibu Ainun untuk Ibu Oyi
Begini tulisan Ibu Ainun Habibi pada buku A. Makmur Makka
(,,SABJH’’) hal. 386 ;
“mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan
sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir: buat apa uang tambahan
dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan
pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri
kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan
kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri,
saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah
anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang
dan kepuasan pribadi tambahan kerena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan
menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu”
Tulisan yang membuatku harus berpikir ulang. Berulang-ulang.
Minggu, 08 Juli 2012
Memilih Buku
Sebagai pembaca, saya adalah pembaca buku yang memilih buku dari siapa pengarangnya. Karena menurut saya latar belakang seseorang akan mempengaruhi sudut pandang dan cara menulis seseorang mengenai sesuatu. Setiap unsur yang ada pada sebuah tulisan pasti kepingan-kepingan pengalaman dan pikiran dari sang penulis.
Kampus saya pernah mengadakan acara bedah buku, saya adalah
salah satu panitianya, dalam acara tersebut diundang seorang pengarang buku,
seorang wanita, dia memakai baju yang sangat minim, bertato, merokok, gayanya ibukota
sekali, dia membawa beberapa teman yang merupakan timnya, sama saja
penampilanya. Timnya sempat kaget melihat orang-orang yang datang dalam acara
tersebut, para mahasiswa yang mereka pikir akan lebih bebas dan nonformil,
ternyata malah menggunakan kemeja tertutup lengkap dengan sepatu, yah memang begitulah
penampilan mahasiswa kampusku sehari-hari. Salah seorang dari tim pengarang
buku tersebut sampai meminta panitia untuk mencarikan peniti untuk menjadikan
selendang yang ia bawa sebagai penutup badanya yang ia rasa terlalu terbuka dan
kurang pas dengan suasana di ruangan tersebut. Dari penilaian saya secara
subyektif, saya kurang suka dengan orang-orang tersebut, penulis dan
orang-orang dari timnya.
Suatu hari di sebuah toko buku suami saya menemukan sebuah
buku bertemakan “Ibu”. Berhubung kami akan menjadi orang tua tentu buku dengan
tema ini sangat menarik perhatian kami, tetapi ketika saya membaca siapa
pengarangnya saya langsung melarang suami membeli buku itu. Ya, pengarangnya
adalah wanita yang pernah datang ke acara kampusku. Buku itu menceritakan
perjuangan seorang ibu, katanya, terinspirasi dari kisah nyata, entah itu
ibunya atau ibu orang lain. Seharusnya buku itu menjadi buku yang mengharukan,
menyentuh, perjuangan seorang ibu yang berjuang dan akhirnya sukses membesarkan
anak-anaknya. Sayangnya buku itu tetap tidak menarik simpati saya, pikiran saya
tetap membayang pada wanita itu.
Buku adalah inspirasi, bagaimana bisa saya terinspirasi
mengenai kisah seorang Ibu, sementara dalam otak saya terpotret sosok wanita
penulis buku itu, seseorang yang kurang berkenan di hati saya.
Mohon maaf sekali, fungsi penilaian manusia ada pada Alloh
SWT. Sungguh sebagai manusia saya tidak patut menilai orang baik atau buruk,
saya benar-benar 100% menilai wanita tersebut dari luarnya saja. Saya sama
sekali tidak punya kompetensi untuk menilai seseorang baik dan buruk, itu
adalah hak Alloh, belum tentu wanita yang saya nilai kurang sempurna tersebut
lebih buruk dari saya, sungguh belum tentu. Tapi dalam konteks ini, dalam saya
membuat pilihan mengeluarkan uang untuk membeli sebuah karya, subyektifitas
saya memilih seperti itu, memilih untuk melihat tulisan dari siapa
pengarangnya. Apakah saya suka atau tidak suka. Sekali lagi suka dan tidak
suka. Hanya pada batas itu kemampuan saya dalam menilai seseorang.
Suami saya mengingatkan untuk jangan seperti itu, lihatlah
karyanya kalau memang bagus ya harus dinilai bagus tanpa perlu melihat latar
belakang penulisnya. Nasihat itu tetap tidak bisa membohongi hati nurani saya
dalam memilih bacaan. Bagi saya tetap saja, attitude
penulis sangat mempengaruhi penilaian saya.
Senin, 18 Juni 2012
Pertanyaan
Siapa bilang masa anak-anak itu masa lalu yang mudah
dilupakan? No.. setiap memori masa kecilku aku ingat betul, bahkan aku ingat
mainan kesukaanku waktu aku belum bisa jalan, aku sangat suka mobil-mobilan berlampu
kelap kelip dengan penumpang berambut awut-awutan warna-warni, yang kalo
disetel mobil itu akan jalan nggak karuan arahnya, belok Cuma kalo nabrak
hehe.. aku juga ingat salah satu benda kesayanganku adalah tempat minum
berbentuk gajah, oiya aku juga suka beli minuman sitrun yang dikemas dalam
botol-botol plastik berbentuk orang-orangan warna-warni J
Tapi, lebih dari itu, aku sedang mengingat-ingat
pertanyan-pertanyaan polos yang pernah kuajukan pada emakku:
Kekasih gelap
Gara-gara denger lagunya SO7 aku jadi tanya ke Emakku, “mah,
kekasih gelap maksudnya gimana?” saat itu mungkin masih SD, aku sudah tahu
maksudnya kekasih tapi kalo digabung dengan kata gelap, wes gak mudeng aku..
hehe.. dan aku lupa beliau menjawab apa, mungkin diam saja, buktinya aku lupa.
Jaya!
Banyak orang-orang di desaku yang memberi nama tokonya “TOKO JAYA” dan aku benar-benar tidak tahu arti kata Jaya, akupun menanyakannya pada emakku, kata emakku jaya itu artinya sukses atau
menang.. J
Huruf n dan g
Hahaa.. yang ini sampai sekarang pun aku masih
memepertanyakan. Saat itu ibuku sedang di kamar mandi (aku bahkan ingat
settingnya J)
dan aku baru belajar menulis, kutanya gimana cara menulis ‘ENG’ ibuku menjawab
dari dalam kamar mandi “ya tinggal dijejerkan huruf en dan ge, kalo bikin ‘eny’
juga gitu huruf en dijejerin sama huruf ye”. Aku pun mengikuti jawaban itu tapi
dalam hati kecilku aku protes benar, kenapa bisa huruf en dan ge dijejerkan
berubah jadi eng, apa korelasinya.. sampai saat ini pun aku masih protes,
kenapa nggak ada huruf eng, malah yang ada huruf eks (x) yang menurutku tidak
terlalu penting, kan bisa tuh disandingkan huruf ka dan es, itu jelas akan menjadi eks.
Ah.. emakku, sampai aku dewasa pun kalo ada pertanyaan
tentang hidup ini aku selalu menanyakanya pada beliau, walaupun seringkali
beliau tidak bisa menjawab tapi beliau selalu berusaha menjawab seperti “nanti
yah ditanyakan ke ustadzah dulu” atau beliau diam lalu cari referensi, pokoknya
gimana caranya biar aku mendapatkan jawaban.
Tak bisa kubayangkan pertanyaan-pertanyaan apa yang nanti
akan muncul dari mulut mungil anakku nanti, aku harus siap dengan jawaban
paling imajinatif kalo sampai aku sendiri bingung bagaimana harus menjawabnya.. hehe..
Minggu, 17 Juni 2012
laki-laki vs perempuan I
Waktu-waktu seperti ini, banyak sekali hal yang terjadi
selain perubahan fisik tentunya, seperti yang banyak di jelaskan di jurnal ilmiah atau buku-buku kehamilan.
Kuceritakan, teman, ini hanya pengalamanku yang sangat mungkin berbeda dengan ibu hamil yang lain.
Sejak hamil entah kenapa aku jadi sangat sensitif. Betul, seperti seorang yang sedang kasmaran dengan kekasih nun jauh di sana. Sensi.. salah sedikit omongan orang bisa sangat menyakiti, atau bisa juga hal kecil bisa dengan mudah membuatku bahagia.
Ketika sedang memikirkan suatu hal kecil tiba-tiba pikiranku merajut skenario sendiri, kadang aku jadi peran antagonis, atau menjadi si protagonis yang menderita. Atau kalau sedang senang si otak kan mengaturku muncul dalam akhir yang bahagia, yang semuanya itu sebenarnya tidak ada.
Meski hanya bayangan belaka tapi bisa memutar mood seketika, kadang tiba-tiba mewek, atau tiba-tiba gembira sendiri. Benar kata mba inun, dia pesan, nanti kalau ketika kamu hamil tiba-tiba muncul pikiran yang aneh-aneh bilang ya..
contohnya ketika waktu itu aku bertemu dengan seseorang, masih tergolong saudara, beliau tiba-tiba menanggapi kehamilanku
"emmm dari bentuk perutnya si kayaknya perempuan"
*masih senyum dengan gembira kujawab "hehe.. InsyaAlloh, laki-laki atau perempuan sama saja"
"tapi gak apa-apa yah.. moga-moga si cowo, masi mending lah daripada si mba itu belum bisa punya anak"
*tiba-tiba sesek*
telaah baik-baik jawaban itu,
seperti ada tingkatan bahwa punya anak cowo itu lebih baik daripada punya anak cewe dan punya anak cewe lebih baik daripada tidak punya anak.
entah kenapa dialog bersama bapak itu terasa sangat mengganggu pikiran, jika benar aku mengandung anak perempuan rasanya aku kurang beruntung dibandingkan dengan wanita lain yang mengandung anak laki-laki.
oh sampai saat ini aku belum bertanya pada obginku apakah si dede perempuan atau laki-laki, biar, aku malas menjawab pertanyaan orang tentang itu.
selain perubahan fisik tentunya, seperti yang banyak di jelaskan di jurnal ilmiah atau buku-buku kehamilan.
Kuceritakan, teman, ini hanya pengalamanku yang sangat mungkin berbeda dengan ibu hamil yang lain.
Sejak hamil entah kenapa aku jadi sangat sensitif. Betul, seperti seorang yang sedang kasmaran dengan kekasih nun jauh di sana. Sensi.. salah sedikit omongan orang bisa sangat menyakiti, atau bisa juga hal kecil bisa dengan mudah membuatku bahagia.
Ketika sedang memikirkan suatu hal kecil tiba-tiba pikiranku merajut skenario sendiri, kadang aku jadi peran antagonis, atau menjadi si protagonis yang menderita. Atau kalau sedang senang si otak kan mengaturku muncul dalam akhir yang bahagia, yang semuanya itu sebenarnya tidak ada.
Meski hanya bayangan belaka tapi bisa memutar mood seketika, kadang tiba-tiba mewek, atau tiba-tiba gembira sendiri. Benar kata mba inun, dia pesan, nanti kalau ketika kamu hamil tiba-tiba muncul pikiran yang aneh-aneh bilang ya..
contohnya ketika waktu itu aku bertemu dengan seseorang, masih tergolong saudara, beliau tiba-tiba menanggapi kehamilanku
"emmm dari bentuk perutnya si kayaknya perempuan"
*masih senyum dengan gembira kujawab "hehe.. InsyaAlloh, laki-laki atau perempuan sama saja"
"tapi gak apa-apa yah.. moga-moga si cowo, masi mending lah daripada si mba itu belum bisa punya anak"
*tiba-tiba sesek*
telaah baik-baik jawaban itu,
seperti ada tingkatan bahwa punya anak cowo itu lebih baik daripada punya anak cewe dan punya anak cewe lebih baik daripada tidak punya anak.
entah kenapa dialog bersama bapak itu terasa sangat mengganggu pikiran, jika benar aku mengandung anak perempuan rasanya aku kurang beruntung dibandingkan dengan wanita lain yang mengandung anak laki-laki.
oh sampai saat ini aku belum bertanya pada obginku apakah si dede perempuan atau laki-laki, biar, aku malas menjawab pertanyaan orang tentang itu.
Langganan:
Postingan (Atom)

