Jangan tanya padaku soal judul itu, aku tidak tahu
aku pun sedang bertanya-tanya
aku pernah bilang tidak mau masuk neraka
lalu tiba-tiba muncul di pikiranku
mengapa Alloh yang Maha Baik menciptakan neraka?
mengapa membersihkan manusia dengan cara menyiksanya?
mengapa ada yang bilang bahwa itu karena Alloh sayang sama kita jadi kita dibersihkan melalui neraka
tapi berikutnya yang muncul di otakku
bagaimana bila neraka yang tertulis di Al-Quran itu adalah cobaan
cobaan bagi manusia
untuk Ia tahu mana yang sungguh mencintainya dan mana yang tidak
untuk tahu mana hambaNya yang tetap bisa ikhlas mencintainya walau yang dicintainya memberi pilihan berupa siksa
Senin, 06 Januari 2014
Senin, 21 Oktober 2013
Sisifus
Membaca tulisan dua orang teman saya yang keren-keren, Meina Febriani di sini dan Gita Wiryawan di sini
Saya jadi banyak cari tau tentang Si Sisifus ini. dan.. Baaaaah.....
ini keren banget. Merinding.. Betapa dalam pemikiran penulisnya sampai
bisa menuliskan kisah Sisifus.
Setelah dibahas oleh dua teman saya tadi, dan dikaitkan dengan peristiwa 4 tahun perjalanan cinta seseorang, saya tidak akan membahasnya lagi.
Tapi kedua tulisan itu menggantungkan banyak pertanyaan bagi saya
Benarkah Sisifus itu gagal?
lalu apa sebenarnya kegagalan itu?
bila gagal lawanya adalah sukses, benarkah bila Sisifus berhasil meletakan batu di atas bukit maka dia telah sukses?
apakah itu pencapaian Sisifus? Benarkah itu keinginanya? sekedar meletakan batu di atas bukit?
Bukankah dia tau bahwa yang Ia lakukan, yaitu membawa batu lalu jatuh lagi adalah sebuah hukuman?
Bila Sang Penghukum lalu mengizinkan batu itu ada di atas bukit, apalagi keinginan Sisifus?
Lalu saya bercermin sendiri.
Benarkah pencapaian yang saya inginkan bisa membawa saya untuk merasa sukses?
Setelah dibahas oleh dua teman saya tadi, dan dikaitkan dengan peristiwa 4 tahun perjalanan cinta seseorang, saya tidak akan membahasnya lagi.
Tapi kedua tulisan itu menggantungkan banyak pertanyaan bagi saya
Benarkah Sisifus itu gagal?
lalu apa sebenarnya kegagalan itu?
bila gagal lawanya adalah sukses, benarkah bila Sisifus berhasil meletakan batu di atas bukit maka dia telah sukses?
apakah itu pencapaian Sisifus? Benarkah itu keinginanya? sekedar meletakan batu di atas bukit?
Bukankah dia tau bahwa yang Ia lakukan, yaitu membawa batu lalu jatuh lagi adalah sebuah hukuman?
Bila Sang Penghukum lalu mengizinkan batu itu ada di atas bukit, apalagi keinginan Sisifus?
Lalu saya bercermin sendiri.
Benarkah pencapaian yang saya inginkan bisa membawa saya untuk merasa sukses?
Mengapa saya tidak memotret?
Dulunya saya orang yang sangat narsis. Suka sekali memotret diri sendiri. Apalagi kalau ada momen-momen tertentu, rasanya semua orang di dunia harus tau. Tapi sekarang saya sudah tidak suka lagi memotret. Ke mana pun saya pergi, benda sebagus apapun yang saya temui tidak membangkitkan keinginan saya untuk memotret.
Betul sekali bahwa foto menceritakan banyak hal, tapi justru itu saya tidak suka lagi memotret (kalaupun di blog ini banyak foto itu semata-mata demi menunjang penjelasan tulisan saja).
Ketika saya berlibur saya lebih konsentrasi untuk menikmatinya. Mengambil cerita di dalamnya. Berdiskusi dengan suami tentang apa saja yang kami temui. Fokus "membawa" anak saya untuk ikut menikmati setiap momen yang kami lewati. Biarlah momen berlibur atau traveling atau apapun itu untuk kami saja. Biarlah momen itu terjadi sekali saja. Dalam di hati. Tak perlu dibuka-buka lagi. Bahwa setiap peristiwa ada kenangan di dalamnya, cukup cinta dan kasih sayang kami yang menyatukan memori. Bukan hasil print dari tinta atau file foto facebook yang bertumpuk.
Betul sekali bahwa foto menceritakan banyak hal, tapi justru itu saya tidak suka lagi memotret (kalaupun di blog ini banyak foto itu semata-mata demi menunjang penjelasan tulisan saja).
Ketika saya berlibur saya lebih konsentrasi untuk menikmatinya. Mengambil cerita di dalamnya. Berdiskusi dengan suami tentang apa saja yang kami temui. Fokus "membawa" anak saya untuk ikut menikmati setiap momen yang kami lewati. Biarlah momen berlibur atau traveling atau apapun itu untuk kami saja. Biarlah momen itu terjadi sekali saja. Dalam di hati. Tak perlu dibuka-buka lagi. Bahwa setiap peristiwa ada kenangan di dalamnya, cukup cinta dan kasih sayang kami yang menyatukan memori. Bukan hasil print dari tinta atau file foto facebook yang bertumpuk.
Selasa, 30 Juli 2013
Review Kurir ASI
Sekarang sudah banyak penyedia jasa pengantaran ASI. Tentu saja ini dikarenakan banyaknya kebutuhan pengantaran ASI terutama di kota besar seperti di Jakarta, di mana para Ibu bekerja yang masih menyusui anaknya harus memeberikan ASI walaupun sedang tidak ada di rumah.
Seperti yang saya ceritakan di sebelumnya, saya pun pernah menggunakan jasa pengantaran ASI ketika saya sedang Diklat pra Jabatan. Saya memakai Kurir Asi dari Ane Express.
Untuk pemakaian jasa kurir ASI saya pesan sekitar seminggu sebelumnya, saya telepon mereka dan memesan tanggal berapa saja ASI harus dijemput. Saya jelaskan pukul berapa mereka harus ada di tempat saya dan di mana letak lokasinya, dan ke mana mereka harus mengantar. Saya juga menjelaskan berapa botol yang harus dibawa karena ada perbedaan harga setiap 10 botol yang dibawa, ini juga supaya mereka mempersiapkan seberapa besar box ASI yang harus mereka bawa.
Saat memesan mereka memberikan respon yang cepat, dan tidak ribet. Kurir ASI ini sudah membawa thermo box dan blue ice sehingga saya tidak perlu menyiapkan cooler bag atau blue ice. Pada saat penjemputan mereka juga datang tepat waktu. Saya memesan pukul 12 siang sudah ada di tempat saya dan bila saya belum selesai acara mohon ditunggu sebentar. Benar saja, pukul 12 siang mereka sudah ada di tempat pengambilang ASI. Pengantaran ke rumah pun cepat sehingga ASI tetap beku. Waktu itu saya mengirim ASI dari Lebak Bulus ke Pondok Aren, karena Pondok Aren sudah masuk daerah Tangerang Selatan jadi dikenakan biaya 45rb.
Saya sangat puas dengan layanan mereka, bila ingin menggunakan jasa mereka bisa dilihat langsung saja di web Kurir Asi.
Senin, 29 Juli 2013
Menyusui di Saat Diklat
Saya seorang CPNS, tentu saja untuk bisa menjadi PNS harus mengikuti diklat pra jabatan. Berat sekali bagi saya. Diklat itu harus dilalui dengan meninggalkan anak saya selama 3 minggu. Selama itu saya harus menginap di asrama dan diberi izin pesiar pulang ke rumah hanya hari minggu itupun dari jam sepuluh pagi dan harus sudah kembali jam enam sore.
Sara masih delapan bulan, masih ASI, walaupun sekarang sudah makan MPASI. Selama ini sara minum empat botol ASI ukuran 100ml ketika siang hari, dan saat malam hari dia minum sesukanya karena langsung pada ibunya, termasuk beberapa kali bangun di malam hari untuk minum ASI. Saya kurang yakin bisa memenuhi kebutuhan Sara sebanyak itu, jadi saya kurangi jatah ASI nya, dalam satu malam Sara hanya minum700ml.. huhhuuu.. sedih.. karena itulah porsi MPASInya saya tambah, dia makan satu porsi lebih banyak.
Untuk keperluan pumping saya membawa botol kaca penyimpan asi, pompa ASI medela mini elektrik, tissue khusus botol bayi (saya menggunakan merk cloud), tissue biasa, sapu tangan, blue ice. Hari pertama saya izin kepada panitia untuk memerah ASI, saya juga izin untuk meminta menggunakan jam pelajaran untuk memerah ASI, kata panitia itu terserah dosen yang mengajar, kalau beliau mengizinkan ya tidak ada masalah. Rupanya panitia menyampaikan hal tersebut kepada para dosen. Keesokan harinya ketika saya minta izin untuk mengambil jam pelajaran untuk memerah ASI para dosen itu sudah tahu, dan tentu saja mengizinkan, mereka memberikan waktu sekitar 15 menit.
Jangan samakan diklat prajabatan di kementrian saya dengan diklat prajabatan di kementrian lain. Diklat pra jabatan di kementrian lain mungkin hanya sekedar formalitas belaka. Asal absen bisa lulus. Di kementerian saya, diklat prajabatan dilakukan sangat ketat, nilai ujian harus di ats 7.00 dan harus disiplin, meleset beberapa poin skor saja bisa tidak lulus. Ini bukan omong kosong, saya mengikuti diklat gelombang ke 5, sementara gelombang sebelumnya sudah ada pengumuman kelulusanya. Banyak yang tidak lulus! mereka mengulang tahun berikutnya dan belum bisa diangkat menjadi PNS, bila tahun berikutnya tidak lulus juga maka tidak akan bisa menjadi PNS.
Dengan ketatnya berbagai peraturan dan jadwal diklat saya harus pintar pintar mengatur waktu memompa. Ada waktu sedikit saja walopun cuma 10 menit akan saya sempatkan untuk pumping. Kalaupun waktunya terlalu mepet saya pakai untuk mencuci botol. Waktu coffe break juga saya pakai untuk pumping, jadi selama diklat saya cuma makan besar 3 kali saja, tidak perlu makan snack.. efisiensi waktu.. hehhe.. Tengah malam juga saya pumping. Kalau dosen datang terlambat saya tinggal juga untuk pumping. Teman-teman saya sangat menndukung saya, jadi kalau saya dicariin dosen karena menghilang mereka yang memintakan izin, Yosnia sedang 'Ritual' pak.. begitu istilah yang mereka pakai.. hhehee.. Waktu belajar mandiri di kamar? ya baca buku sambil pumping juga.. pokoknya kapanpun bisa pumping lakukan saja.. walaupun hasilnya sedikit, tampung saja, lama-lama juga terkumpul banyak.
Untuk pengiriman ASI saya pesan kurir ASI untuk 3 minggu, 2 hari sekali kurir itu bolak balik dari lebak bulus ke bintaro. Kenapa bolak balik? ya untuk menukar botol kaca.
Sebenarnya menggunakan botol kaca kurang efisien dalam keadaan seperti itu karena tidak mungkin membawa botol terlalu banyak. Bisa saja menggunakan plastik ASI seperti merk Nature, tapi saya memilih memakai botol kaca karena tetap saja botol kaca lebih bagus untuk menyimpan ASI di dalam freezer.
Selama diklat produksi ASI dan kebutuhan Sara kurang seimbang, ASI yang saya kirim tetap tidak bisa mengejar kebutuhan ASI Sara. Untung selama ini saya sudah menyimpan stok ASI di lemari es. Selama 3 minggu ditinggal sekitar 40 botol persediaan ASI Sara ludes..
Untuk buebu yang akan diklat juga, jangan menyerah yaa Buuund.. tetap semangat! bisa! yakin bisa! tidak ada alasan untuk tidak bisaaaaa! :)
Untuk pengiriman ASI saya pesan kurir ASI untuk 3 minggu, 2 hari sekali kurir itu bolak balik dari lebak bulus ke bintaro. Kenapa bolak balik? ya untuk menukar botol kaca.
Sebenarnya menggunakan botol kaca kurang efisien dalam keadaan seperti itu karena tidak mungkin membawa botol terlalu banyak. Bisa saja menggunakan plastik ASI seperti merk Nature, tapi saya memilih memakai botol kaca karena tetap saja botol kaca lebih bagus untuk menyimpan ASI di dalam freezer.
Selama diklat produksi ASI dan kebutuhan Sara kurang seimbang, ASI yang saya kirim tetap tidak bisa mengejar kebutuhan ASI Sara. Untung selama ini saya sudah menyimpan stok ASI di lemari es. Selama 3 minggu ditinggal sekitar 40 botol persediaan ASI Sara ludes..
Untuk buebu yang akan diklat juga, jangan menyerah yaa Buuund.. tetap semangat! bisa! yakin bisa! tidak ada alasan untuk tidak bisaaaaa! :)
Mulailah dari diri sendiri
Waktu kecil aku bermimpi mengubah dunia menjadi lebih baik, namun ternyata tak bisa..
Beranjak remaja aku ingin mengubah negaraku agar menjadi lebih baik, namun ternyata tak bisa..
Ketika tua aku ingin mengubah keluargaku supaya lebih baik, ternyata tak bisa juga..
Tiba saatnya ajalku hampir tiba, baru kusadari.. yang seharusnya kulakukan adalah mengubah diriku sendiri..
Sering sekali yah kita membaca catatan di atas?
tapi baru kali ini kualami betul.
Lagi-lagi tentang breastfeeding..
Banyak sekali cerita yang terukir dari pengalaman ini.
Aku berasal dari kecamatan kecil di Jawa Tengah, Ajibarang. Semua keluargaku ada di sana. Jangan samakan desa kecil seperti itu dengan Jakarta, di Jakarta komunitas Ibu menyusui begitu solid. Pendidikan tentang ASI sudah sangat luas. Para Ibu di kota Jakarta sangat bangga jika bisa memberikan ASI, dan para ibu ini saling mendukung. Berbeda dengan Ajibarang, di sana orang-orang sudah terdoktrin oleh iklan susu formula, mereka menganggap susu formula lebih baik dari ASI, dan ini didukung oleh para bidan di sana. Ketika bayi lahir para bidan memberikan susu formula. Bukan karena Bidan itu tidak tahu, tapi karena ada komisi dari produsen susu formula. Sedih sekali.. Ketika aku memberikan ASI hampir semua keluargaku termasuk orangtuaku sendiri menganggapku aneh. Terus-terusan mereka mengajakku untuk memberi susu formula untuk si Bayi. tapi aku sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari sebelum anakku lahir. Aku anggap santai aja. Dengan santainya aku bilang nggak usah deh.. biarin nggak apa-apa.. aku mah ASI aja.
Sampai sekarang anakku berusia 10 bulan aku masih memberikan ASI, kadang keluarga di desa masih meragukan karena melihat Aksara tidak terlalu gemuk, mereka masih menyuruh memberikan susu formula, katanya biar gemuk. Sekarng kutanya, lebih memilih gemuk tapi penyakitan atau standar aja tapi sehat? begitu jawabku.
Aku nggak akan berani ngomong sesuatu yang belum terjadi. Ini sudah terbukti, anakku usia 10 bulan sama sekali tidak pernah sakit yang berati, hanya batuk pilek ringan, itu pun hanya sampai dua atau tiga hari, tanpa diberi obat sembuh sendiri.
Akhirnya keluargaku mulai menyadari itu. Mereka melihat pertumbuhan Aksara yang bagus sekali. Tidak pernah lagi mereka menampik manfaat ASI.
Sekarang mulai banyak sodaraku di sana yang memberikan ASI untuk anaknya.
Senang sekali rasanya. Tak hentinya aku cerewet menyemangati sepupu-sepupuku yang menjadi ibu baru dan mau memberikan ASI. Sekarang, orang tuaku, bude-budeku mulai bicara tentang ASI. Mulai menyemangati anak-anak mereka untuk memberikan ASI.
Aku sama sekali tak berbuat apa-apa untuk orang lain. Aku hanya berusaha berbuat sebaik mungkin bagi diriku sendiri. Jika itu bisa mematik api perubahan, Alhamdulillah.. semua kebaikan karena Alloh.
Beranjak remaja aku ingin mengubah negaraku agar menjadi lebih baik, namun ternyata tak bisa..
Ketika tua aku ingin mengubah keluargaku supaya lebih baik, ternyata tak bisa juga..
Tiba saatnya ajalku hampir tiba, baru kusadari.. yang seharusnya kulakukan adalah mengubah diriku sendiri..
Sering sekali yah kita membaca catatan di atas?
tapi baru kali ini kualami betul.
Lagi-lagi tentang breastfeeding..
Banyak sekali cerita yang terukir dari pengalaman ini.
Aku berasal dari kecamatan kecil di Jawa Tengah, Ajibarang. Semua keluargaku ada di sana. Jangan samakan desa kecil seperti itu dengan Jakarta, di Jakarta komunitas Ibu menyusui begitu solid. Pendidikan tentang ASI sudah sangat luas. Para Ibu di kota Jakarta sangat bangga jika bisa memberikan ASI, dan para ibu ini saling mendukung. Berbeda dengan Ajibarang, di sana orang-orang sudah terdoktrin oleh iklan susu formula, mereka menganggap susu formula lebih baik dari ASI, dan ini didukung oleh para bidan di sana. Ketika bayi lahir para bidan memberikan susu formula. Bukan karena Bidan itu tidak tahu, tapi karena ada komisi dari produsen susu formula. Sedih sekali.. Ketika aku memberikan ASI hampir semua keluargaku termasuk orangtuaku sendiri menganggapku aneh. Terus-terusan mereka mengajakku untuk memberi susu formula untuk si Bayi. tapi aku sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari sebelum anakku lahir. Aku anggap santai aja. Dengan santainya aku bilang nggak usah deh.. biarin nggak apa-apa.. aku mah ASI aja.
Sampai sekarang anakku berusia 10 bulan aku masih memberikan ASI, kadang keluarga di desa masih meragukan karena melihat Aksara tidak terlalu gemuk, mereka masih menyuruh memberikan susu formula, katanya biar gemuk. Sekarng kutanya, lebih memilih gemuk tapi penyakitan atau standar aja tapi sehat? begitu jawabku.
Aku nggak akan berani ngomong sesuatu yang belum terjadi. Ini sudah terbukti, anakku usia 10 bulan sama sekali tidak pernah sakit yang berati, hanya batuk pilek ringan, itu pun hanya sampai dua atau tiga hari, tanpa diberi obat sembuh sendiri.
Akhirnya keluargaku mulai menyadari itu. Mereka melihat pertumbuhan Aksara yang bagus sekali. Tidak pernah lagi mereka menampik manfaat ASI.
Sekarang mulai banyak sodaraku di sana yang memberikan ASI untuk anaknya.
Senang sekali rasanya. Tak hentinya aku cerewet menyemangati sepupu-sepupuku yang menjadi ibu baru dan mau memberikan ASI. Sekarang, orang tuaku, bude-budeku mulai bicara tentang ASI. Mulai menyemangati anak-anak mereka untuk memberikan ASI.
Aku sama sekali tak berbuat apa-apa untuk orang lain. Aku hanya berusaha berbuat sebaik mungkin bagi diriku sendiri. Jika itu bisa mematik api perubahan, Alhamdulillah.. semua kebaikan karena Alloh.
Minggu, 19 Mei 2013
Malu
Siang ini aku bertemu para kuli bangunan. Bajunya lusuh kebesaran. Penuh debu. Aku yakin itu bukan baju yang dibelinya sendiri. Besar kemungkinan itu baju bonus dari cat tembok atau malah baju yang dibagikan saat musim kampanye. Baju itu tak kalah kumal dengan kulit pemakainya. Bau keringat yang menguap panasnya siang ini tercium. Biasanya aku sebal bertemu orang-orang ini. Tapi tidak kali ini. Entah kenapa aku malu. Bajuku kok bagus sekali. Baju ini juga bukan baju yang kubeli sendiri. Ini baju yang dibagikan dari kantor. Diambil dari APBN. Bajuku dibuat dari kain terbaik. Meski warnanya gelap tapi tidak panas sama sekali. Sangat gaya modelnya. Gagah bila dipakai. Penuh dengan hiasan pangkat. Tapi kok membuatku malu..
Langganan:
Postingan (Atom)

