Selasa, 21 April 2015

Buku Dongeng

Suatu hari kakak ipar main ke rumah saya. Biasa, kumpul keluarga yang dibahas pasti tentang anak. Dari sekian banyak pembicaraan, entah  dari mana asal mulanya kami membicarakan tentang buku anak-anak. Saya mengeluhkan hanya sedikit buku dongeng Indonesia yang bagus, sementara di luar negeri sana buku dongeng bagus-bagus banget. Road Dahl, Dr Seuss, Brothers Grimm adalah beberapa pendongeng yang paling saya idolakan. Kalau di Indonesia saya baru menemukan Clara Ng.





 Kakak ipar hanya senyum dan nyletuk "Yaudah, kamua aja coba bikin buku dongeng yang bagus".. hahaha... skak mat! jawaban saya pun nggak kalah songonya "Iyaa ini sedang bikin" padahal sama sekali belom laaah.. hahaha
Tawaran menarik datang dari  Meina, dia mengajak saya ikut serta mbantuin bikin dongeng untuk tesisnya sebagai syarat kelulusan S2 nya di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. wow! pas bener. Langsung saja saya iyakan. Padahal ga pernah saya bikin cerita dongeng. Kalau ndongeng nya doank mah sering, tapi kan ngarang cerita beda sama menceritakannya. Gapapa deh, mari kita coba. Dalam tesisnya, Simbak Meina membuat semacam buku pelajaran untuk anak kelas 3 SD. Dalam buku itu akan ada berbagai dongeng dan anak akan mengambil pelajaran dengan dasar dongeng-dongeng tersebut.
Saya pun mulai membuat dan menyetor dongeng apa adanya. Tanpa memperdulikan bahwa dongeng harus ada hikmahnya. Dongeng anak-anak bagi saya yang penting tulus, apapun ceritanya pasti ada hikmahnya, mungkin kita orang dewasa tidak bisa menemukanya tapi kita akan terkejut bila anak-anak ditanya ini itu tentang cerita, mereka canggih loh "bikin" hikmah sendiri atas segala cerita. Tapi karena ini adalah proyek untuk buku pelajaran SD maka dongeng-dongeng saya yang seadanya dirombak sedikit sama Meina agar bisa gamblang segala permasalahan, solusi, dan keteladanannya. Ok, pelajaran juga buat saya. Toh mbak Meina ini orang yang berkompeten di bidang bahasa dan sastra, dan tentu saja dikelilingi para profesor yang jauh lebih ahli dalam bidang ini.
Setelah sekian lama, Akhirnya buku itu selesai juga, Alhamdulillah,
Cerita kemudian berlanjut,  buku itu akan diolah lagi menjadi buku pelajaran yang serius. Diolah lagi maksudnya akan digabungkan karya seorang profesional dan dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku yang benar-benar layak diterbitkan dan dipakai sebagai buku pengayaan siswa SD. Ketika Mbak Meina mengabarkannya tentu saja saya bahagiaaaa... tapi dia bilang tidak akan ada nama saya dan nama Meina di buku itu. Buku itu atas nama seorang Profesor. Saya cuma ketawa.
bilang iya, nggak apa-apa.

----

Suatu hari saya dikirimi buku tersebut. Melihat ada dongeng buatan saya di situ saja saya senang...
Setelah saya baca-baca buku itu saya simpan di lemari buku, dan tidak saya keluarkan lagi.
Saya juga tidak membacakan dongeng itu ke anak saya, karena saya pikir anak saya baru 2 tahun, cepat bosan dengan dongeng panjang yang sedikit gambarnya.
Suatu hari saya agak sedikit kaget ketika anak saya yang dua tahun itu menyebut-nyebut tokoh Kuncung.
Rupanya, Simbak di rumah menemukan buku itu, dan dia bacakan dongeng itu ke anak saya walaupun anak saya tampak nggak peduli dan tetap lari sana sini ketika dibacakan. Tapi ternyata dia jadi tahu tokoh-tokohnya, ada si Kuncung, si Katak, Beruang dan lain-lain.
Tidak hanya itu, Simbak juga menceritakan ke tetangga-tetangga bahwa emaknya Sara bikin buku loh, bagus! hahahaha...
Di hari lain, Simbak nanya Bu, itu buku ada lagi nggak? bagus loh bu bukunya, saya minta satu ya Bu, buat anak saya di kampung.
waduh.. saya jadi terharuuu *lap ingus* saya aja yang bikin nyuekin tuh buku, eh Simbak ini malah mau ngasih buku itu ke anaknya. Sayang seribu sayang buku itu hanya ada satu biji. Karena biaya cetak yang agak mahal jadi buku itu dicetak sangat terbatas *Emak irit* Saya hanya punya satu dan ga bisa donk saya kasihin ke si Embak. Saya janji kalau ada lagi nanti saya kasihkan ke Embak.

Beberapa hari berlalu tanpa ada kabar lagi tentang buku itu dicetak lagi atau tidak. Saya juga sudah lupa sebenarnya tentang janji saya ke Embak. Sampai suatu hari si Embak izin mau ke luar katanya mau ke fotokopian. Saya pikir oh mungkin si Embak mau fotokopi KTP atau surat berharga lainnya, ternyata si Embak mau ngopi buku dongeng saya. Oiya yah, kan bisa juga difotokopi. hehehe...
Pulang dari fotokopi si Embak girang bukan main. Katanya nih buuu muraaah lapan belas ribu udah jadi buku (dalam hati saya bilang lah kan item putih mbaaak mana menarik) anak saya di kampung pasti seneng saya kasih buku ini. heheee.. iya iya Mbaaak..
Kebetulan minggu depannya Simbak mudik ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh berupa buku dongeng fotokopian item putih.
Ketika Simbak pulang saya mau nggak mau harus bersih-bersih rumah. Saat itulah saya menemukan sebuah buku tulis kumal yang penuh dengan tulisan tangan. Dasar saya kepo, ada beginian langsung aja saya baca. Tulisanya nggak rapi dan pakai pinsil. Susah mbacanya. And you know what? isi buku itu adalah salinan buku yang saya bikin bersama Meina!. Dari halaman judul sampai setengah buku! Semuanya lengkap sama persis hingga titik komanya! Tulisan tangang!!!!! tulisan siapalagi kalau bukan tulisan si Embak.
Udah mau nangis aja rasanya.
Buku yang saya sepelekan ternyata segitu pentingnya buat si Embak sampai ditulis tangan.
Dan ini gara-gara saya yang nggak serius nanggapin si Embak yang ternyata beneran pengen ngasih buku itu ke anaknya.
Belakangan saya tahu rupaya si Embak menulis buku itu, sampai suatu ketika Simbak dikasih tahu sama temennya kalau ada yang namanya fotokopi,

-----------------------

Setelah kejadian itu saya jadi mikir pentingkah sebuah nama? perlukah pengakuan bahwa saya ikut menulis buku itu? betulkah saya menginginkan pengakuan itu?
Suami saya sering sekali menyuruh saya mengirimkan dongeng-dongeng bikinan saya ke majalah anak-anak, tapi tidak pernah saya lakukan. Kenapa? karena majalah anak-anak itu mahal. Cuma yang kaya yang bisa baca tulisan saya nanti.
Suami saya juga yang protes kenapa nama kamu nggak ada di buku itu nanti? kan plagiat namanya.
saya cuma bilang "Ora pateken"
yang saya pikirkan adalah kalau Buku pengayaan pelajaran itu jadi, dan memakai nama besar Profesor sebagai pengarangnya InsyaAlloh akan banyak lembaga yang percaya untuk menggunakan buku itu, semoga buku itu tersebar ke mana-mana dan buku itu akan dipakai oleh banyak anak. Kalau memang buku itu nantinya bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi ilmu, masih pentingkah nama saya?
Selama bukan untuk hal komersial dan untuk kepentingan pribadi saya sama sekali tidak masalah.
Toh itu hanya sedikit karya saya.
Semoga nantinya saya bisa berkarya lebih banyak lagi, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat lagi.




2 komentar:

  1. Maafkan aku bebi, sampai saat ini pun aku masih galau

    BalasHapus
  2. hahaaa... dilakoni siitt.. nek urung dilakoni ncen galau

    BalasHapus

 

my little history Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template